Sabtu, 15 September 2012
Kemerdekaan yang Bertanggung Jawab
Shalom,
Telah enam puluh lima tahun bangsa ini merdeka,
terhitung sejak dibacakannya teks proklamasi oleh Bapak Proklamator;
Soekarno dan Hatta. Untuk memperoleh pengakuan "merdeka" tidaklah
mudah, banyak hal yang sudah dikorbankan. Ribuan nyawa telah gugur di
medan perang untuk merebut kemerdekaan dari penjajah. Setelah
proklamasi dikumandangkan pun, Indonesia tidak serta-merta bebas dari
masalah. Masih banyak tantangan dan hambatan yang terus menyertai
langkah bangsa ini.
terhitung sejak dibacakannya teks proklamasi oleh Bapak Proklamator;
Soekarno dan Hatta. Untuk memperoleh pengakuan "merdeka" tidaklah
mudah, banyak hal yang sudah dikorbankan. Ribuan nyawa telah gugur di
medan perang untuk merebut kemerdekaan dari penjajah. Setelah
proklamasi dikumandangkan pun, Indonesia tidak serta-merta bebas dari
masalah. Masih banyak tantangan dan hambatan yang terus menyertai
langkah bangsa ini.
Begitu juga dengan kehidupan kita. Sebagai seorang
Kristiani yang telah lahir baru, kita pun sudah dibebaskan oleh dosa.
Kita dimerdekakan oleh pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Kita
tidak lagi mengenakan kuk perhambaan (Galatia 5:1). Namun, tentu saja
ada kemungkinan kita jatuh ke dalam berbagai bentuk perbudakan lain
seperti ajaran-ajaran dan tradisi yang menyesatkan. Itulah tantangan
bagi kita. Mampukah kita tetap mempertahankan kemerdekaan dalam
Kristus?
Kristiani yang telah lahir baru, kita pun sudah dibebaskan oleh dosa.
Kita dimerdekakan oleh pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Kita
tidak lagi mengenakan kuk perhambaan (Galatia 5:1). Namun, tentu saja
ada kemungkinan kita jatuh ke dalam berbagai bentuk perbudakan lain
seperti ajaran-ajaran dan tradisi yang menyesatkan. Itulah tantangan
bagi kita. Mampukah kita tetap mempertahankan kemerdekaan dalam
Kristus?
Ombak
Suatu hari saya ke sebuah pantai, di sana saya duduk
di tepi karang. Saat itu saya sedang mengalami masalah dan mengalami
pergumulan, di sanalah saya ingin menyendiri.
Sewaktu saya duduk, datanglah deburan ombak, lalu memecahkan karang di hadapan saya.
Karang itu mengalami pecahan sedikit demi sedikit.
Lalu saya merenung, ombak itu hanyalah berupa kumpulan air laut yang
bergerak, namun dia dapat menerjang apa pun di hadapannya, walaupun itu
karang sekalipun, seolah dia mempunyai energi yang besar.
Namun jika dia tidak ada angin, dia hanya aliran air
laut biasa yang tidak mampu menerjang apa pun; dia dapat menerjang
semuanya itu hanya jika angin membantunya.
Lalu saya mendapati kesamaan kehidupan manusia dengan ombak tersebut.
Setiap manusia dapat mengatasi masalah apa pun, namun itu hanya terjadi jika Tuhan mendukungnya.
Sama seperti ombak yang dapat menerjang apapun jika angin membantu membuat gelombang yang besar dan kuat.
Di situlah saya menyadari kekuatan saya sebagai
manusia tidaklah ada apa-apanya jika tanpa dukungan Tuhan dalam membantu
saya menghadapi masalah saya.
Dalam kehidupan ini, kita tidak dapat mengatasi
masalah jika kita tidak mengandalkan-Nya. Andalkan Tuhan, dan semuanya
akan mengikuti dengan sendirinya.
Never Give Up!
Oleh: Lia Sutandio
Seorang wanita bernama Lovely sedang mengalami suatu
kebosanan dengan keadaan dirinya yang mengalami berbagai masalah yang
tiada hentinya. Dia mengalami begitu banyak tekanan di perusahaannya.
Dia sedang menantikan mujizat untuk hubungannya dengan calon suaminya.
Dia juga mengalami masalah dalam keluarganya. Dan semuanya itu seperti
tidak ada ujungnya.
Puncaknya, pada suatu hari, Lovely menangis tiada
hentinya sepanjang hari itu, tidak bisa konsentrasi dalam mengerjakan
segala sesuatunya, mengalami banyak kesalahan, sehingga masalah-masalah
kecil pun mulai menambah beban di hati dan pikirannya.
Artikel Terkait
Lovely mengalami kekecewaan yang cukup besar kepada
orang-orang di sekitarnya dan (yang paling bahaya) Lovely juga merasa
marah karena merasa sangat kecewa dengan Tuhan, yang dianggapnya tidak
menyayanginya lagi dan telah berbuat jahat kepadanya.
Lovely benar-benar merasa sangat tertekan,
sampai-sampai di dalam hatinya berkata bahwa dia benar-benar mau
berserah kepada Tuhan dalam arti bukan percaya tetapi menganggap bahwa
dirinya memang diciptakan untuk mengalami hari-hari yang sial sehingga
Lovely tidak mau berusaha lagi untuk menjalani masalah-masalahnya itu.
Sampai pada waktu menjelang malam, Lovely membuka
Facebook dan membaca status seorang sahabatnya yang bernama Morine, yang
kelihatannya sedang kesal. Lovely ingat akan kotbah seorang pendeta
yang berkata “jika Anda mengalami masalah dan beban terasa begitu
berat, maka sebaiknya Anda mencari orang lain yang sedang mengalami
masalah juga dan hiburlah dia, sehingga Anda akan bersyukur karena
masalah Anda ternyata tidak lebih berat dari masalah yang dihadapi orang
lainâ€. Oleh karenanya Lovely berniat untuk menghibur sahabatnya ini.
Lovely mulai menyapa sahabatnya ini melalui
BlackBerry, singkat cerita Morine hanya mengalami kesal sesaat saja,
jadi sebenarnya dia tidak sedang mengalami masalah. Tetapi sebelum
Lovely sempat mengakhir pembicaraan itu, Morine bertanya mengenai kabar
Lovely dan Lovely pun masih menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.
Sebagai sahabat, Morine mengetahui semua masalah yang
dihadapi oleh Lovely. Jadi kemudian Morine mempertanyakan kelanjutan
dari masalah-masalah yang dialami oleh Lovely, dengan harapan ada kabar
baik yang akan didengarnya. Tetapi Lovely menjawab dengan singkat bahwa
masalahnya itu semua belum selesai. Morine yang tidak mengetahui kondisi
Lovely saat itu, dengan lincahnya berkata bahwa akhir-akhir ini dia
sedang gencar-gencarnya mendoakan Lovely agar segera mendapatkan mujizat
untuk semua masalahnya itu agar Lovely mengalami kemenangan demi
kemenangan.
Lovely sangat terkejut membaca semua perkataan Morine
dan Lovely pun menangis tiada henti karena merasa dirinya saja sudah
menyerah, tetapi ternyata diketahuinya bahwa sahabatnya telah berdoa
untuknya.
Lovely menceritakan keadaannya saat itu dan dia pun
meminta maaf karena sebenarnya dia sudah benar-benar lelah dan hendak
menyerah. Tetapi Morine terus menguatkan, menghibur, dan memberinya
semangat, sehingga akhirnya Lovely berusaha untuk bangkir kembali,
walaupun hati masih terasa berat.
Ada berapa banyak dari pembaca saat ini yang sedang
mengalami masalah yang bertubi-tubi, yang terlihat hanya jalan buntu
untuk masalah itu, dan beban yang terasa begitu berat?
Saat ini kita tidak perlu membicarakan tentang kasih
Tuhan atau berkata bahwa Tuhan pasti melihat kesusahan kita, karena
ketika kita mengalami masalah, realitanya kita sulit untuk bisa melihat
Tuhan itu ada di dekat kita. Tetapi mari kita pikirkan bahwa ada teman,
sahabat, saudara, dan tim doa yang mendoakan kita, walaupun mungkin
mereka tidak mendoakannya secara spesifik, tetapi ketika mereka berdoa,
mereka memiliki iman untuk kita, dan kalau pun mereka tidak ingat untuk
mendoakan kita, ketahuilah bahwa Roh Kudus pasti bisa menggerakan hati
orang-orang tertentu untuk mendoakan kita.
Lalu, kalau ada orang-orang yang berdoa dan mempunyai
iman untuk kita, apakah kita masih ingin menyerah terhadap masalah
kita? Kalau ada orang-orang yang turut berteriak memohon jalan keluar
untuk masalah kita, apakah kita masih bisa tidak percaya bahwa Tuhan
tidak mungkin selamanya acuh terhadap kita?
Bayangkan, seandainya kita berada dalam pertandingan
lari, dan di tengah-tengah ketika merasa lelah, ada seseorang yang
berusaha memberi kita minum dan turut berlari dengan kita walaupun di
luar arena, demi memberikan kita semangat, apakah kita rela berhenti
berlari dan memenangkan pertandingan itu? Saya rasa tentu jawaban kita
semua adalah tidak. Kecuali jika kita mengalami cedera yang cukup berat
dan tidak bisa berlari lagi.
Demikian pula, jika saat ini ada dari para pembaca
yang hendak menyerah karena merasa beban terasa begitu berat dan tidak
sanggup lagi, selama kita masih belum benar-benar harus berhenti, mari
kita melihat bahwa ada perjuangan doa dan iman dari orang-orang yang ada
di sekitar kita. Walau pun mungkin kita tidak melihat secara nyata
bahwa ada orang-orang yang benar-benar berdoa untuk kita, tetapi
percayalah bahwa dalam perjuangan, kita ini tidak sendirian. Jadi jangan
kita menyerah!
Selain itu, dalam perjuangan iman, kadangkala Tuhan
ingin kita tetap mempercayai-Nya walaupun tampaknya Tuhan seolah-olah
sudah tidak mempedulikan kita atau walaupun tampaknya seolah-olah Tuhan
memang menginginkan persoalan itu menghimpit kita, karena memang
Tuhanlah Sang Pencipta yang paling mengetahui segala yang terbaik untuk
kita.
Jadi apa pun yang terjadi, berusahalah untuk tetap mempercayai Tuhan, karena masa depan kita terbentang bersama-Nya.
Tuhan memberkati.
(Ide dari Erine Ratmawati)
Remover
Oleh: Lia Sutandio
Kebanyakan wanita, pasti mengenal beraneka ragam
peralatan make up, dan tentunya para wanita tidak akan sembarangan
memilih peralatan make up. Peralatan make up akan "lulus seleksi" bagi
seorang wanita, jika memenuhi beberapa persyaratan yang "telah
ditentukan" tentunya, salah satu persyaratan misalnya jika sesuai dengan
jenis kulit wanita tersebut, warnanya cocok untuk digunakan, mereknya
sesuai, harganya terjangkau, dan sebagainya.
Artikel Terkait
Peralatan make up yang "dianggap murahan atau
pasaran" katanya ada yang dapat menyebabkan wajah gatal-gatal, cepat
luntur, atau kalau terlihat dari hasilnya itu tampak tidak bagus. Ada
pula peralatan make up yang "dianggap mahal" dan bermerek, katanya pada
waktu digunakan kualitasnya benar-benar tampak bagus, tidak mudah
luntur, tampak halus, wajah tampak bersinar, dan ada begitu banyak hal
yang bisa menjadi bahan komentar para wanita, sekali lagi semuanya itu
tergantung dari jenis kulit dan "persyaratan" masing-masing wanita.
Pernah sekali saya mencoba sebuah remover (pembersih)
yang akhirnya menimbulkan ide tulisan saya berikut ini. Saya
menggunakan remover yang dilihat dari kualitas barang, harga, dan merek
termasuk berada di bawah rata-rata. Pada waktu digunakan untuk menghapus
sisa make up dengan merek tertentu mungkin remover tersebut dapat
menghapusnya dengan mudah, tapi untuk sisa make up dengan merek yang
lainnya tidak bisa dibersihkan dengan sempurna oleh remover tersebut.
Di suatu waktu yang lain, saya mencoba menggunakan
remover yang memiliki kualitas dan harga yang cukup di atas rata-rata.
Ketika digunakan untuk menghapus sisa make up dengan merek apa pun,
remover ini mudah sekali untuk membersihkannya, sehingga saya tidak
mengalami kesulitan untuk membersihkan sisa make up pada wajah saya.
Itulah sebabnya mengapa ada berbagai macam merek
peralatan make up di pasaran yang dijual dan masing-masing wanita juga
memiliki berbagai "persyaratan" di dalam memilih peralatan make up yang
hendak mereka pakai.
Dari ilustrasi tersebut di atas, saya mendapatkan
bahwa seperti halnya hati kita ini. Hati kita ini dapat terisi oleh
berbagai macam hal, seperti kesabaran, kelemahlembutan, kebaikan, belas
kasihan, kasih, dan berbagai hal baik lainnya. Tetapi sebaliknya hati
kita juga dapat terisi juga oleh berbagai niat jahat, rasa benci,
kemarahan, sakit hati, kepahitan, dan berbagai hal buruk lainnya. Tentu
saja semuanya tergantung dari banyak faktor, yang pada akhirnya diri
kita masing-masing lah yang menentukan hendak diisi dengan hal baik atau
buruk hati kita ini.
Saya yakin setiap dari kita tidak akan pernah punya
keinginan untuk mengisi hati ini dengan sesuatu yang buruk. Tetapi ada
kalanya tanpa atau dengan kita sadari, hati kita ini dapat terisi oleh
hal-hal yang jahat atau niat buruk.
Oleh karena pada dasarnya Tuhan menciptakan semua
orang itu baik, maka bagi orang-orang yang "sadar" dan berniat ingin
memperbaiki diri untuk menjadi seseorang yang lebih baik, maka yang
terutama harus diperbaiki tentunya hati kita ini. Karena sumber dari
segala sesuatu adalah hati, jika hati kita bersih, maka semua niat,
perkataan, pikiran pun akan menjadi baik. Selain itu Tuhan juga selalu
melihat hati. Jika DIA ingin memberkati kita, maka yang dilihatNYA
pertama kali adalah bagaimana hati kita ini.
Dan tentunya semua orang tahu bahwa mengubah hati
yang buruk menjadi yang baik itu tidaklah semudah teorinya. Walau pun
mungkin bagi orang-orang tertentu untuk melakukan perubahan itu adalah
hal yang mudah, tetapi memperbaiki segala sesuatu yang buruk menjadi
baik itu bukanlah hal yang mudah.
Diperlukan “remover†(alat pembersih) yang tepat
untuk bisa menghapus isi hati yang buruk dan menggantikan yang baik.
Jika remover yang digunakan adalah yang “murahanâ€, maka sesuatu yang
buruk di hati kita ini pasti tidak akan sepenuhnya terangkat bersih.
Sebaliknya jika remover yang digunakan memiliki kualitas yang baik, maka
"kotoran" yang ada di dalam hati ini pasti akan terangkat sempurna.
Dengan kata lain, jika kita menggunakan kekuatan kita
sendiri, maka kita tidak akan pernah bisa menjadi sebuah pribadi yang
lebih baik dari sebelumnya. Kalau pun bisa, pasti tidak akan bertahan
lama. Tetapi jika kita mengandalkan kekuatan tangan Tuhan, maka
perubahan yang sempurna, yang jauh lebih baik, bahkan lebih dari apa
yang pernah kita bayangkan itulah yang akan terjadi.
Tuhan itu mampu mengubahkan setiap pribadi yang mau
diubahkan. Jika saat ini kita ingin mengalami suatu perubahan di dalam
hati dan pikiran kita, maka kita harus memilih dan mengijinkan Tuhan
yang bekerja di dalam hati kita ini.
Tuhan Yesus memberkati.
Upah Kesetiaan
Artikel Terkait
Kebaktian dewasa: biarlah miskin di sini, asal kaya di surga, biar sakit di sini asal senang di surga
Saudara yang kekasih dalam Tuhan, saya percaya memang
kita akan dapat upah di surga. Tapi, untuk mendapatkan mahkota tersebut
kita harus kerja keras dan sungguh-sungguh, setia dalam menghadapi
pergumulan. Karena itu:
-
Ibu-ibu harus sabar hadapi suami yang pemarah, galak, tidak setia.
-
Bapak-bapak jangan terlibat dosa perzinahan, jangan selingkuh, dll.
-
Anak-anak muda pacaran yang normal, jangan melanggar hubungan seks sebelum menikah.
Bacaan Alkitab: 1 Kor 3:10-15
Apakah saudara emas, perak, batu, permata, kayu,
rumput kering, atau jerami; tetap saja apa yang kita kerjakan suatu hari
kelak akan diuji dengan api. Jika kita tahan uji, kita akan mendapat
upah keluar dari api.
Yakobus 1:12 "Berbahagialah orang yang bertahan dalam
pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota
kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."
Ada empat upah kesetiaan yang saya catat:
-
Kuasa Doa. Yakobus 5:16; yakin, setia, sungguh-sungguh akan melihat doa-doa kita terjawab: doa saja tidak cukup, kita juga harus setia. Luk 18:1; saya terlalu percaya kuasa doa, doa adalah segala-galanya. Kesetiaan adalah doa.
-
Yes 61:8-9 Upah Kita dengan Tepat:
-
Dan 6:4: Daniel melebihi para pejabat/orang lain. Kenapa? Karena Daniel tidak menajiskan dirinya dengan makanan raja dan minuman yang memabukan dan 1:8. Daniel setia.
-
Maz 1:1-3: tidak mendengar nasehat orang fasik mengandung kesetian kepada nasehat orang benar/firman Tuhan. Merenungkan taurat siang dan malam; saudara perhatikan mengandung kesetiaan.
Contoh: Seorang anak yang lesbian, homosex, kawin
dengan tidak seiman, atau terjerat obat, didoakan oleh ibunya. Saya
percaya itu baik. Tetapi setiap kali si ibu bertemu anaknya, ibunya
mengomel, "Mama malu. Mama nih aktif di gereja, kamu malah modelnya
begitu. Mama sakit hati, lama-lama mama bisa mati," Jika saudara berdoa
tapi saudara membuat hambatan untuk mujizat terjadi untuk doa saudara
sendiri, saya yakin anak saudara tidak akan bertobat.
Katakan: "Sayang, mama berdoa pada Tuhan, dan mama
percaya kamu pasti akan melihat mujizat-Nya. Kamu pasti diubahkan Tuhan.
Bila kamu berada dalam keadaan yang paling sukar, datang pada Yesus.
Dia akan menerimamu apa adanya dan akan mengerjakan mujizat bagi kamu,"
Sementara mungkin anak Anda tidak mau mendengarkan, "Ah, mama khotbah
terus!†Doa dan kesetiaan adalah menjadi kekuatan/kuasa yang luar
biasa. Doa tanpa kesetiaan adalah formalitas atau kepalsuan, kemunafikan
belaka.
Kesetiaan tanpa doa akan menjadi kelemahan; setia
tapi tidak doa percuma, lama-lama saudara malas berdoa. Kekuatan datang
dari doa. Bagi Tuhan tiada yang mustahil.
Kita kerja sedikit, upah kita sedikit. Kerja lumayan,
upahnya pun lumayan. Bekerja banyak, upahnya juga banyak. Itu namanya
adil dan tepat.
Tidak kerja banyak, berjuang banyak, jangan harap
sesuatu yang besar dari Tuhan. Menghadapi masa-masa yang sukar saudara
tetap setia, sesuatu yang besar menanti Anda.
Yusuf difitnah. Sakit hati. Masuk penjara. Dia membayar mahal untuk itu. Tuhan lalu mengangkatnya menjadi perdana menteri;
Daud dikejar-kejar Saul, mau dibunuh tapi tidak
membalas: "Aku tidak akan menjamah orang yang diurapi Tuhan." Tuhan
angkat dia jadi raja.
Tuhan akan memberi kita upah dengan tepat; Tuhan
adalah yang terbaik yang menangani adminitrasi hidup kita; Tuhan tahu
persis perjuangan kita. Kapan kita dikecewakan, kapan kita difitnah,
atau disakiti. Tuhan tahu persis engkau tidak membalas kejahatan dengan
kejahatan; Tuhan perhitungkan semuanya. Saya mau ingatkan untuk hidup
setia dan benar.
Kalau kita setia, anak cucu kita diberkati dan
keluarga kita diberkati. Tetapi kalo kita buka celah untuk dosa, anak
cucu kita juga akan menghadapi kutuk.
Mazmur 25:13 "Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi."
Mazmur 37:25 "Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi
tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak
cucunya meminta-minta roti;"
Mazmur 112:2 "Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati."
Sebagai hamba Tuhan saya mau ingatkan: bapak–ibu;
jangan berzinah, jangan selingkuh. Jika tidak, maka jangan heran
anak-anak saudara akan berhubungan seks di luar nikah, hamil, atau
menghamili orang.
Kalau saudara buka pintu untuk perzinahan,
perselingkuhan, percaya fengshui, penyembah berhala, kuasa kegelapan,
maka anak saudara menghadapi kutuk itu. Karena keadilan Tuhan dilihat
dari sudut berkatnya.
Maz 103:17 "Tetapi kasih setia TUHAN dari
selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan
Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu."
Kalau saudara masih punya akal sehat, pasti berpikir
untuk bertobat. Saudara pasti tidak rela anak-anak Anda hancur. Mari
kita setia melakukan kebenaran.
Mungkin orang mengejek: iman sih iman, tapi jangan
ekstremlah, jangan fanatiklah. Orang gereja tidak boleh merokok, tidak
boleh ke pub, tidak boleh karaoke, tidak boleh ke diskotik, tidak mabuk,
tidak boleh nonton porno, dan masih banyak lagi.
Ada seorang yang saya layani. Ia bertanya bahwa
Alkitab tidak mencatat tidak boleh merokok, tidak boleh ke diskotik,
dll. 1 Kor 10:23 mengatakan ""Segala sesuatu diperbolehkan." Benar,
tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan."
Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
Saudaraku, orang tidak akan menyangkal kita berbeda. Kita memiliki sesuatu yang kita miliki yang dunia tidak miliki.
* Orang yang setia, termasuk orang yang melakukan 3 M (merenungkan firman, melakukan firman, membagikan firman).
* Orang yang setia tetap akan melewati badai; tetapi
ia adalah orang yang dikasihi Tuhan. Maz 34:11 "Singa-singa muda merana
kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan
sesuatu pun yang baik."
KESIMPULAN: Tuhan akan memberi upah tepat seperti apa yang kita lakukan.
Memberikan Pujian
Oleh: Marinus Waruwu
Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut
jalan. Tolstoy, penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya,
langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata
tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai
Saudaraku. Aku tidak bawa uang."
Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis
berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali,
karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi
saya."
Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.
Artikel Terkait
Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak
manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang.
Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis
dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa
uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.
Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga
makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai.
Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu
sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus.
Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah. Jauh lebih mudah mengritik orang lain.
Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak
mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya
puji. Kinerjanya begitu buruk." "Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu
buruk?" saya balik bertanya. "Karena Anda sama sekali tak pernah
memujinya!"
Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?
Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.
-
Kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmat-Nya tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda mengingkari nikmat-Nya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.
-
Kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!" Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, "Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!"Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain. Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.
-
Paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar dan baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.
Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang
yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi,
Lu Lagi -- bahasa Jakarta). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal
mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari
mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.
Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir
saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya
setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan
bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu
dan benar-benar mati kutu.
Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang
Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif
yang amat dahsyat. Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan
terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang
membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor
klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko, maupun petugas di jalan tol.
Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab
ucapan terima kasih saya dengan doa, "Hati-hati di jalan, Pak!"
Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang
membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang
menjemukan.
Pujian memang mengandung energi yang bisa
mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih
penting, membuat orang merasa dimanusiakan.
Sumber: Indonesia Business Online, Penulis: Arvan Pradiansyah
Dulu Aku Hanya Seorang Pengemis
Kesaksian: Suparno
Dari kolong sebuh jembatan, Suparno dan kelima adiknya dibesarkan. Ia berasal dari keluarga yang turun-temurun bekerja sebagai pengemis. Karena keadaannya Suparno sepertinya tidak memiliki harapan untuk mengubah nasibnya.
Saya turun ke jalanan sejak umur lima tahun. Saya sekolah dari kelas satu SD sampai kelas enam saja. Saya dibiayai dari hasil bapak saya mengemis. Waktu saya kelas satu kelas dua saya punya cita-cita menjadi polisi. Bapak saya pernah bilang: "Kita orang susah, kita orang miskin, jangan neko-nekolah (macam-macam)". Kata-kata semacam itu tertanam dalam pikiran saya. Cita-cita itu musnah dalam hidup saya. Bahkan saya pernah berpikir saya tidak layak di dunia ini.
Bukan sekedar melemahkan semangat, orang tua Suparno juga melakukan kekerasan yang mengerikan pada dirinya. Dari kecil saya tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua saya. Hari-hari saya dipukuli ibu saya. Saat saya sekolah, telat sedikit saya disiram air. Kalau melakukan kesalahan, kaki saya di-tang dan kuku saya dicabut. Dendam dan kepahitan hidup terbentuk dalam batin Suparno. Waktu itu saya hanya punya perasaan dendam dan punya pikiran kalau saya sudah besar dan menjadi "orang", saya pasti balas perlakuan mereka. Saya beranggapan saya sudah tidak punya orang tua lagi. Saya ingin kabur dari rumah.
Perlakuan keras orang tuanya dan realita yang terjadi dalam kehidupannya membuat Suparno merasa inilah takdirnya sebagai orang miskin yang tidak berpengharapan. Semenjak saya putus sekolah saya melakukan pekerjaan mengemis, dan orang tua saya juga mendorong saya untuk melakukannya. Perasaan saya waktu itu hancur, saya kecewa pada mereka. Pernah mereka bilang : "Kamu ganti baju yang jelek aja, muka kamu hitam-hitamin. Muka kamu dibuat untuk belas kasihan. Kamu bikin luka-luka bohongan. Mereka juga berikan saya obat-obatan terlarang untuk saya konsumsi untuk menghilangkan rasa malu saya.
Untuk memancing iba dan belas kasihan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak, Suparno menuruti saran ayahnya agar dia membakar kakinya sendiri. Bapak saya pernah bilang : "No, kaki kamu bakar aja". Terus saya berpikir, benar juga ide itu. Kurang lebih tiga hari kemudian, kaki ini saya bakar dan saya kapuri. Saya minum obat, minum-minuman keras supaya disaat saya kasih kapur dan saya bakar kaki saya, saya tidak merasakan sakit. Walau penghasilan meningkat namun tubuhnya menjadi rusak. Sebelum membakar kaki, penghasilan saya sehari 30-50 ribu rupiah. Setelah membakar kaki penghasilan saya bisa 100-200 ribu. Dan setiap dua bulan sekali saya melakukan hal itu (membakar kaki), itu terus saya lakukan. Suatu saat Suparno berjumpa dengan seseorang yang mengubah paradigma hidup Suparno, Melchior, seorang yang menyadarkan Suparno bahwa ia adalah umat yang memiliki harkat dan berharga di mata Tuhan.
Waktu saya tinggal di kolong jembatan, ada satu pribadi yang mau peduli dengan saya. Kak Melchior setiap hari selalu menasehati saya. Dia juga setiap hari mencukupi kebutuhan saya. Dia tinggal di kolong jembatan selama tiga bulan. Dia bekerja menarik gerobak dan menjadi pemulung. Itu membuat saya bertanya: "Siapa sih ini orang?". Waktu datang, dia menyadarkan saya dengan mengatakan: "No, kamu sadar nggak sih, kamu ini orang sehat?. Kamu ini orang yang tidak cacat, apa kamu mau bekerja seperti ini selamanya?." Sampai suatu hari dia bilang : "No, kamu tinggal dengan saya aja di rumah singgah".
Dua hari saya dengan dia, dia mengajari saya menarik gerobak, ternyata ini pekerjaan yang berat. Disitu timbul lagi pikiran yang negatif dalam hidup saya : "Buat apa sih saya harus menarik gerobak seperti ini?, harus mengeluarkan keringat segala macam?. Penghasilan saya mengemis juga lebih besar kok!?". Itu yang menguatkan saya untuk keluar dari rumah singgah.
Satu hari kemudian, dia datang lagi ke kolong dan berkata: "Suparno, kamu diciptakan bukan untuk menjadi pengemis tapi untuk menjadi orang yang sukses dalam Tuhan!". Saya nggak mengerti waktu itu, Tuhan itu apa sih?!. Tuhan itu seperti apa? Makanan apa Tuhan itu?. Beberapa pertanyaan menghujani pikiran Suparno. Siapakah pribadi Tuhan yang dimaksud?. Pertanyaan ini telah mengarahkan Suparno kembali ke rumah singgah.
Setelah itu saya kembali lagi ke rumah singgah. Saya diajari lagi bekerja. Saya taat dengan kembali memulung setiap hari. Saya mengambil barang-barang bekas untuk dijual kembali, kak Melchior juga setiap hari menguatkan saya : "Kalau kamu mau, kamu tidak akan pernah menjadi seorang pemulung terus karena Tuhan juga tidak menciptakan hanya pemulung". Sampai-sampai suatu saat kak Melchior memanggil saya dan mengatakan: "Mulai besok kamu tidak perlu menjadi pemulung lagi, kamu yang jadi penjaga lapak. Kamu yang bertanggung jawab, semua orang yang ada di tempat ini jualnya ke kamu".
Dari kepercayaan yang kecil yang dipercayakan kepadanya, semua dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Suparno mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar menjadi kepala lapak, sopir mobil bahkan mengelola mobil angkutan kota yang menjadi miliknya sendiri. Kak Melchior bilang: "No, kamu bisa nyopir nggak?". Saya bilang bisa. "Kamu mau nggak kakak beliin mobil?, uang mukanya kakak kasih dan angsurannya kamu usahain sendiri?". Itu sangat berat buat saya karena saya takut, saya takut karena angsuran bulanannya nggak sedikit, sangat besar buat saya, 4,5 juta dan uang mukanya 30 juta. Andaikata saya tidak bayar angsuran maka uang muka akan hilang dan mobil juga akan hilang. Tapi saya bertekad untuk membayar uang mukanya dari kak Milchior yang 30 juta dalam satu tahun.
Dengan ketekunan dan semangat kerja yang tinggi, bertanggung jawab, jujur dan dapat dipercaya, menjadi karakter yang melekat dalam diri Suparno. Itu semua adalah karakter Tuhan yang memampukan dia lepas dari kehidupan jalanan yang tiada berpengharapan menjadi hidup yang penuh harapan.
Ahmad Yani, adik Suparno bersaksi atar perubahan hidup kakaknya. Saya mau mengikut abang saya itu karena saya melihat perubahan. Dulunya ia orangnya jahat. Kerja di jalanan setahu saya mana mungkin bisa berubah. Tapi sekarang mas Parno memotivasi saya untuk mau belajar, mas Parno sekarang mau memasukkan saya ke angkatan darat.
Sedikit demi sedikit Suparno belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Kak Melchior selalu menenamkan dalam diri saya: "Parno jangan pernah minder, kamu jangan pernah menyerah karena Tuhan Yesus selalu bersama kamu, karena Tuhan Yesus selalu ada di dalam diri kamu. Karena Tuhan Yesus selalu mengasihi kamu. Kamu jangan pernah menyerah dalam segala hal, apapun itu. Jangan pernah kalah dengan keadaan."
Suparno telah berubah dan kini ia dapat melihat siapa Tuhan itu. Di dalam Yesus ada kebahagiaan karena didalam Yesus itu ada kasih. Saya baru pertama kali itu merasakan kasih yang begitu luar biasa yang selama ini belum pernah saya rasakan. Saya bersyukur pada Tuhan karena Tuhanlah yang mengubah hidup saya. Tuhan menjadikan saya memiliki pengharapan, yang tadinya saya tidak punya pengharapan, Tuhan memberikan pengharapan itu pada diri saya. Saya sangat bangga dan bersyukur pada Tuhan.
Saya bahkan mau menyerahkan hidup saya pada Dia, firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. (Yesaya 43:18-19)
JAWABAN.com.
Dari kolong sebuh jembatan, Suparno dan kelima adiknya dibesarkan. Ia berasal dari keluarga yang turun-temurun bekerja sebagai pengemis. Karena keadaannya Suparno sepertinya tidak memiliki harapan untuk mengubah nasibnya.
Saya turun ke jalanan sejak umur lima tahun. Saya sekolah dari kelas satu SD sampai kelas enam saja. Saya dibiayai dari hasil bapak saya mengemis. Waktu saya kelas satu kelas dua saya punya cita-cita menjadi polisi. Bapak saya pernah bilang: "Kita orang susah, kita orang miskin, jangan neko-nekolah (macam-macam)". Kata-kata semacam itu tertanam dalam pikiran saya. Cita-cita itu musnah dalam hidup saya. Bahkan saya pernah berpikir saya tidak layak di dunia ini.
Bukan sekedar melemahkan semangat, orang tua Suparno juga melakukan kekerasan yang mengerikan pada dirinya. Dari kecil saya tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua saya. Hari-hari saya dipukuli ibu saya. Saat saya sekolah, telat sedikit saya disiram air. Kalau melakukan kesalahan, kaki saya di-tang dan kuku saya dicabut. Dendam dan kepahitan hidup terbentuk dalam batin Suparno. Waktu itu saya hanya punya perasaan dendam dan punya pikiran kalau saya sudah besar dan menjadi "orang", saya pasti balas perlakuan mereka. Saya beranggapan saya sudah tidak punya orang tua lagi. Saya ingin kabur dari rumah.
Perlakuan keras orang tuanya dan realita yang terjadi dalam kehidupannya membuat Suparno merasa inilah takdirnya sebagai orang miskin yang tidak berpengharapan. Semenjak saya putus sekolah saya melakukan pekerjaan mengemis, dan orang tua saya juga mendorong saya untuk melakukannya. Perasaan saya waktu itu hancur, saya kecewa pada mereka. Pernah mereka bilang : "Kamu ganti baju yang jelek aja, muka kamu hitam-hitamin. Muka kamu dibuat untuk belas kasihan. Kamu bikin luka-luka bohongan. Mereka juga berikan saya obat-obatan terlarang untuk saya konsumsi untuk menghilangkan rasa malu saya.
Untuk memancing iba dan belas kasihan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak, Suparno menuruti saran ayahnya agar dia membakar kakinya sendiri. Bapak saya pernah bilang : "No, kaki kamu bakar aja". Terus saya berpikir, benar juga ide itu. Kurang lebih tiga hari kemudian, kaki ini saya bakar dan saya kapuri. Saya minum obat, minum-minuman keras supaya disaat saya kasih kapur dan saya bakar kaki saya, saya tidak merasakan sakit. Walau penghasilan meningkat namun tubuhnya menjadi rusak. Sebelum membakar kaki, penghasilan saya sehari 30-50 ribu rupiah. Setelah membakar kaki penghasilan saya bisa 100-200 ribu. Dan setiap dua bulan sekali saya melakukan hal itu (membakar kaki), itu terus saya lakukan. Suatu saat Suparno berjumpa dengan seseorang yang mengubah paradigma hidup Suparno, Melchior, seorang yang menyadarkan Suparno bahwa ia adalah umat yang memiliki harkat dan berharga di mata Tuhan.
Waktu saya tinggal di kolong jembatan, ada satu pribadi yang mau peduli dengan saya. Kak Melchior setiap hari selalu menasehati saya. Dia juga setiap hari mencukupi kebutuhan saya. Dia tinggal di kolong jembatan selama tiga bulan. Dia bekerja menarik gerobak dan menjadi pemulung. Itu membuat saya bertanya: "Siapa sih ini orang?". Waktu datang, dia menyadarkan saya dengan mengatakan: "No, kamu sadar nggak sih, kamu ini orang sehat?. Kamu ini orang yang tidak cacat, apa kamu mau bekerja seperti ini selamanya?." Sampai suatu hari dia bilang : "No, kamu tinggal dengan saya aja di rumah singgah".
Dua hari saya dengan dia, dia mengajari saya menarik gerobak, ternyata ini pekerjaan yang berat. Disitu timbul lagi pikiran yang negatif dalam hidup saya : "Buat apa sih saya harus menarik gerobak seperti ini?, harus mengeluarkan keringat segala macam?. Penghasilan saya mengemis juga lebih besar kok!?". Itu yang menguatkan saya untuk keluar dari rumah singgah.
Satu hari kemudian, dia datang lagi ke kolong dan berkata: "Suparno, kamu diciptakan bukan untuk menjadi pengemis tapi untuk menjadi orang yang sukses dalam Tuhan!". Saya nggak mengerti waktu itu, Tuhan itu apa sih?!. Tuhan itu seperti apa? Makanan apa Tuhan itu?. Beberapa pertanyaan menghujani pikiran Suparno. Siapakah pribadi Tuhan yang dimaksud?. Pertanyaan ini telah mengarahkan Suparno kembali ke rumah singgah.
Setelah itu saya kembali lagi ke rumah singgah. Saya diajari lagi bekerja. Saya taat dengan kembali memulung setiap hari. Saya mengambil barang-barang bekas untuk dijual kembali, kak Melchior juga setiap hari menguatkan saya : "Kalau kamu mau, kamu tidak akan pernah menjadi seorang pemulung terus karena Tuhan juga tidak menciptakan hanya pemulung". Sampai-sampai suatu saat kak Melchior memanggil saya dan mengatakan: "Mulai besok kamu tidak perlu menjadi pemulung lagi, kamu yang jadi penjaga lapak. Kamu yang bertanggung jawab, semua orang yang ada di tempat ini jualnya ke kamu".
Dari kepercayaan yang kecil yang dipercayakan kepadanya, semua dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Suparno mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar menjadi kepala lapak, sopir mobil bahkan mengelola mobil angkutan kota yang menjadi miliknya sendiri. Kak Melchior bilang: "No, kamu bisa nyopir nggak?". Saya bilang bisa. "Kamu mau nggak kakak beliin mobil?, uang mukanya kakak kasih dan angsurannya kamu usahain sendiri?". Itu sangat berat buat saya karena saya takut, saya takut karena angsuran bulanannya nggak sedikit, sangat besar buat saya, 4,5 juta dan uang mukanya 30 juta. Andaikata saya tidak bayar angsuran maka uang muka akan hilang dan mobil juga akan hilang. Tapi saya bertekad untuk membayar uang mukanya dari kak Milchior yang 30 juta dalam satu tahun.
Dengan ketekunan dan semangat kerja yang tinggi, bertanggung jawab, jujur dan dapat dipercaya, menjadi karakter yang melekat dalam diri Suparno. Itu semua adalah karakter Tuhan yang memampukan dia lepas dari kehidupan jalanan yang tiada berpengharapan menjadi hidup yang penuh harapan.
Ahmad Yani, adik Suparno bersaksi atar perubahan hidup kakaknya. Saya mau mengikut abang saya itu karena saya melihat perubahan. Dulunya ia orangnya jahat. Kerja di jalanan setahu saya mana mungkin bisa berubah. Tapi sekarang mas Parno memotivasi saya untuk mau belajar, mas Parno sekarang mau memasukkan saya ke angkatan darat.
Sedikit demi sedikit Suparno belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Kak Melchior selalu menenamkan dalam diri saya: "Parno jangan pernah minder, kamu jangan pernah menyerah karena Tuhan Yesus selalu bersama kamu, karena Tuhan Yesus selalu ada di dalam diri kamu. Karena Tuhan Yesus selalu mengasihi kamu. Kamu jangan pernah menyerah dalam segala hal, apapun itu. Jangan pernah kalah dengan keadaan."
Suparno telah berubah dan kini ia dapat melihat siapa Tuhan itu. Di dalam Yesus ada kebahagiaan karena didalam Yesus itu ada kasih. Saya baru pertama kali itu merasakan kasih yang begitu luar biasa yang selama ini belum pernah saya rasakan. Saya bersyukur pada Tuhan karena Tuhanlah yang mengubah hidup saya. Tuhan menjadikan saya memiliki pengharapan, yang tadinya saya tidak punya pengharapan, Tuhan memberikan pengharapan itu pada diri saya. Saya sangat bangga dan bersyukur pada Tuhan.
Saya bahkan mau menyerahkan hidup saya pada Dia, firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. (Yesaya 43:18-19)
JAWABAN.com.
Mengapa Aku Menangis? Mengapa Aku Tertawa?
Oleh: Sion Antonius
Kami menonton sebuah film yang temanya sangat jarang
diungkapkan, yaitu mengenai orang-orang yang ditugaskan untuk
menyampaikan pesan. Menariknya dalam film tersebut, pesan yang harus
disampaikan adalah pesan dukacita. Orang-orang ini harus menyampaikan
kabar kepada para keluarga perihal kematian orang-orang yang
dikasihinya.
Cerita film adalah mengenai tentara Amerika yang
mendapatkan tugas pada bagian penyampai kabar untuk keluarga yang
anggota keluarganya meninggal dalam tugas militer. Kematian mereka bisa
karena pertempuran ataupun kecelakaan dalam tugas, dan untuk hal
tersebut perlu petugas khusus sebagai penyampai resmi dari kemiliteran.
Dalam film tersebut terpilih seorang sersan dan
seorang kapten. Sebagai kapten, maka dia bertindak menjadi atasannya.
Sebelum memulai tugas si kapten memberikan wejangan sekaligus sebagai
aturan, yaitu pada intinya mereka tidak boleh melibatkan sisi emosional
(keharuan, kesedihan dan semacamnya) dirinya dengan para keluarga yang
berduka. Mereka hanya menyampaikan berita dengan tegas dan dingin,
apabila berita sudah disampaikan maka selesailah tugasnya.
Artikel Terkait
Pada awalnya si sersan bisa mengikuti aturan tersebut
namun perlahan tapi pasti, sisi emosional dari si sersan mulai tidak
bisa berkompromi. Secara kejiwaan malah dia mengalami tekanan mental,
mulai merasa bersalah karena tidak bisa menunjukkan simpati dan empati
kepada orang-orang yang sedang berduka cita. Puncaknya, dia berani
melawan perintah si kapten dengan cara menunjukkan sikap simpati pada
saat harus menyampaikan sebuah kabar dukacita. Dia mendapat hinaan dan
marah dari si kapten, dianggap sebagai orang yang lemah. Namun dia tidak
bergeming, malah merasa persoalan mentalnya justru menjadi dapat
terselesaikan, dengan pembangkangan tersebut.
Manusia didorong untuk bisa menyalurkan sikap
emosional secara wajar. Manusia diharapkan bisa menangis dengan orang
yang menangis dan tertawa dengan orang yang tertawa. Tujuannya adalah
supaya secara sosial manusia itu bisa menempatkan dirinya sedemikian
rupa dalam hubungan antar sesama. Ketika manusia itu tidak mau merasakan
perasaan orang lain dalam hubungan sosialnya, maka lambat laun orang
tersebut akan menghadapi masalah dengan dirinya sendiri.
Jadi ada saatnya kita memang harus bisa bergembira
dalam kegembiraan yang orang lain dapatkan, dan juga bisa ikut merasakan
kesedihan tatkala orang lain mengalami suatu kedukaan. Sikap ini bukan
untuk kepentingan orang lain, tetapi justru akan sangat membantu
kesehatan jiwa kita.
Marilah kita memiliki jiwa yang sehat, dengan menjadi
orang yang bisa bersimpati dan berempati kepada orang lain dengan tulus
dan jujur.
Kasih Seorang Ibu
Oleh: Sidiq Prasetyo
Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah
lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa
dan mau keluar rumah. Walaupun ia memunyai seorang anak perempuan, ia
harus tinggal di rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan.
Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan
melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah
menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya.
Di samping itu keluarganya menuntut agar ia
menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu
memunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap
mempertahakannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya.
Selain aib yang harus ditanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik
untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada
seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis
maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya
cemoohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapa.
Artikel Terkait
Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas
berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan
seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia
miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi
nama Love -- Kasih. Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan di waktu
malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan
penghasilan tambahan yang ia bisa dapatkan.
Terkadang ia harus menjahit sampai pukul 2 pagi,
tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak
pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu dan Minggu pun ia masih bekerja menjadi
pelayan restoran. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan
maupun biaya sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi,
karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari
putrinya akan datang balik kembali kepadanya. Di samping itu ia tidak
mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.
Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang
vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal
baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan
untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli
pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian
orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan
terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan makanan.
Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di
luar sangat dingin sekali, karena pada saat itu sedang musim dingin
menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda
sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah
dikumpulkannya belum mencukupi. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya,
maka dari itu walaupun cuaca di luar dingin sekali, bahkan dalam keadaan
sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan
bekerja.
Sejak saat itu ia kena penyakit rheumatik, sehingga
sering sekali badannya terasa sangat nyeri. Ia ingin memanjakan putrinya
dan memberikan hanya yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia
harus bekorban, jadi dalam keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap
bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya
yang tercinta.
Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya
putrinya bisa melanjutkan studinya di luar kota. Di sana putrinya jatuh
cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken.
Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih memunyai orang tua. Ia
merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan
memunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di
restoran. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua
orang tuanya sudah meninggal dunia.
Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat
dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja.
Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidak diinginkan. Ia duduk di
sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan
selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu
bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia
dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia
membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia
merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah memunyai
seorang cucu.
Ia sangat mendambakan untuk bisa memeluk dan
menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh
menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan,
agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan
anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa
melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu
untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya. Ia merasa bahagia sekali,
karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja di sana. Di rumah
putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma
dari cucunya melainkan hanya sebagai bibi pembantu dari keluarga
tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa
permohonannya telah dikabulkan.
Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan
perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi
oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali
dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau
hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dalam kamarnya
yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni
kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada
putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena
ia sangat menyayangi putrinya.
Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada
orang yang mengetahui siapa dirinya di rumah tersebut, akhirnya ia
menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang
budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan
kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo. Puluhan tahun
ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya.
Uang pensiun yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk
putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan
bantuannya.
Pada tahun lampau beberapa hari sebelum Natal, ia
jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak
lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu
keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa
bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin
memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama
hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.
Suhu di luar telah mencapai 17 derajat di bawah nol
dan salju pun turun dengan lebatnya. Jangankan manusia, anjing pun pada
saat ini tidak mau ke luar rumah lagi, karena di luar sangat dingin,
tetapi nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah
putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir
kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya
bus berjam-jam. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo
letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak
mudah bagi seorang nenek tua yang berada dalam keadaan sakit.
Setiba di rumah putrinya dalam keadaan lelah dan
kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata putrinya sendiri yang
membukakan pintu rumah. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan
putrinya? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak!
Bahkan ia ditegor: "Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun
sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu
khusus, ialah pintu di belakang rumah!"
"Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan
hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu
sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar
saja, karena di luar dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah
tidak kuat lagi, Nak!" kata wanita tua itu. "Maaf saya tidak ada waktu,
di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat
tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu,
jangan sembarangan datang begitu saja!" ucap putrinya dengan nada kesal.
Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya
sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis. Tidak ada rasa kasih,
jangankan kasih, belas kasihan pun tidak ada.
Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi,
ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya "Maaf Bu,
mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelepon ke
kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal
dunia, rupanya ia mati kedinginan!" Wanita tua ini mati bukan hanya
kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat
mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta
yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.
Ibu saya tidak melek komputer, bahkan beliau seorang
wanita yang buta aksara, tetapi untuk Mang Ucup pribadi beliau adalah
wanita yang paling hebat, di mana sampai dengan detik ini Mang Ucup
masih bisa belajar dari padanya. Belajar memberikan dan membagikan kasih
tanpa pamrih dan tanpa lagas. Ibunya Mang Ucup menderita sakit kanker,
tetapi ia tidak pernah mengeluh. Tiap kali saya menelpon Ibu, pertanyaan
standar selalu diajukan kepada saya: "Apa yang Ibu bisa bantu untukmu,
Nak?" Ia tidak memohon untuk dirinya sendiri dalam doanya, yang ia
utamakan selalu hanyalah kami anak-anaknya! Ia selalu mendoakan kami
siang dan malam.
Maka dari itulah untuk Mang Ucup, Ibu saya adalah
wanita yang tercantik sejagat raya, melebihi daripada Michael Preifer
walaupun ia barusan saja terpilih oleh majalah People sebagai wanita
tercantik sedunia tahun 1999. Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan
anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga.
Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam
sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak
ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dalam
setahun.
Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari
bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali
saja pada hari-hari tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan
bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja
sedangkan di hari-hari lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro
memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu. Kita akan
bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit
waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga
maupun hadiah.
Renungkanlah: Kapan kita terakhir
kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir
kali kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita
memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan
kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita? Berikanlah kasih
sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun
tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa
melihatnya lagi.
"When Mother prayed, she found sweet rest, When Mother prayed, her soul was blest; Her heart and mind on Christ were stayed, And God was there when Mother prayed!""Our thanks, O God, for mothers Who show, by word and deed, Commitment to Thy will and plan And Thy commandments heed.""A thousand men may build a city, but it takes a mother to make a home."
Apabila Anda mengasihi Ibunda Anda sebarkanlah
tulisan ini kepada rekan-rekan lainnya, agar mereka juga sadar selama
Ibunda mereka masih hidup berikanlah bakti kasih Anda kepada Ibunda
terkasih sebelumnya terlambat.
Cerita: Mang Ucup
Permasalahan Lanjut Usia (Lansia)
Pengertian lansia adalah periode dimana organisme
telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah
menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat
mengenai “usia kemunduran” yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun
dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai
usia yang menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan
seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai
masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi.
Masalah kesehatan mental pada lansia dapat berasal
dari 4 aspek yaitu fisik, psikologik, sosial dan ekonomi. Masalah
tersebut dapat berupa emosi labil, mudah tersinggung, gampang merasa
dilecehkan, kecewa, tidak bahagia, perasaan kehilangan, dan tidak
berguna. Lansia dengan problem tersebut menjadi rentan mengalami
gangguan psikiatrik seperti depresi, ansietas (kecemasan), psikosis
(kegilaan) atau kecanduan obat. Pada umumnya masalah kesehatan mental
lansia adalah masalah penyesuaian. Penyesuaian tersebut karena adanya
perubahan dari keadaan sebelumnya (fisik masih kuat, bekerja dan
berpenghasilan) menjadi kemunduran.
Lansia juga identik dengan menurunnya daya tahan
tubuh dan mengalami berbagai macam penyakit. Lansia akan memerlukan obat
yang jumlah atau macamnya tergantung dari penyakit yang diderita.
Semakin banyak penyakit pada lansia, semakin banyak jenis obat yang
diperlukan. Banyaknya jenis obat akan menimbulkan masalah antara lain
kemungkinan memerlukan ketaatan atau menimbulkan kebingungan dalam
menggunakan atau cara minum obat. Disamping itu dapat meningkatkan
resiko efek samping obat atau interaksi obat.
Pemberian nutrisi yang baik dan cukup sangat
diperlukan lansia. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa
lansia memerlukan nutrisi yang adekuat untuk mendukung dan
mempertahankan kesehatan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan
gizi antara lain: berkurangnya kemampuan mencerna makanan, berkurangnya
cita rasa, dan faktor penyerapan makanan.
Dengan adanya penurunan kesehatan dan keterbatasan
fisik maka diperlukan perawatan sehari-hari yang cukup. Perawatan
tersebut dimaksudkan agar lansia mampu mandiri atau mendapat bantuan
yang minimal. Perawatan yang diberikan berupa kebersihan perorangan
seperti kebersihan gigi dan mulut, kebersihan kulit dan badan serta
rambut. Selain itu pemberian informasi pelayanan kesehatan yang memadai
juga sangat diperlukan bagi lansia agar dapat mendapatkan pelayanan
kesehatan yang memadai.
Sumber: http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/326-permasalahan-lanjut-usia-lansia.html
Metamorfosis
Bacaan: Roma 12:1-8"Berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna." (Roma 12:2)
Proses metamorfosa yang mengubah ulat menjadi
kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu, sungguh suatu perubahan yang
mengagumkan. Dari arti katanya, metamorfosa berarti bentuk yang berubah.
Namun, yang terjadi pada kupu-kupu bukan hanya perubahan bentuk, tetapi
juga gaya hidup. Ulat merangkak, kupu terbang. Ulat makan daun, kupu
mengisap madu. Ulat tampak rakus, kupu tampak anggun. Ulat bergerak
lambat, kupu terbang cepat. Sungguh berubah total!
Kata "metamorfosa" itu pulalah yang dipakai Paulus
ketika menulis: "Berubahlah oleh pembaruan budimu ...". Paulus ingin
jemaat di Roma benar-benar berubah, seperti perubahan yang dialami ulat
hingga menjadi kupu-kupu. Gaya hidup, cara pAndang, dan cara jemaat
menjalani hidup mesti berubah, sehingga mereka "dapat membedakan mana
kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang
sempurna". Ya, reformasi sejati tidak hanya mengubah forma (bentuk),
tetapi juga mengubah apa yang ada di dalam hidup seseorang.
Hidup kita perlu terus mengalami reformasi. Harus
terus bergerak dari ulat ke kepompong. Jadi tidak hanya diam, tetapi
seperti pesan Paulus, kita perlu terus mempersembahkan diri sebagai
persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (ayat 1).
Artinya, kita selalu menyadari—dan kemudian membuktikannya pada
dunia—bahwa atas kemurahan Allah dan kasih karunia-Nya, hidup kita ini
adalah milik Allah.
Mari terus berubah agar semakin matang di dalam
Tuhan. Hingga pada saatnya kelak, kita sungguh berubah menjadi indah dan
memberkati setiap orang yang melihatnya.
Kompas Hidup (Ibrani 12:2)
"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan..."
Pernahkah saudara bertanya, mengapa kapal yang
berlayar di kegelapan pun bisa sampai ke tujuannya dengan tepat? Mengapa
pesawat yang apabila sudah mengudara hingga melampaui awan-awan dan
daratan tak kelihatan setitik pun dapat sampai ke kota yang dituju
dengan tepat? Itu bukan karena ada kacamata yang tembus pAndang hingga
kiloan meter, atau ada malaikat pengawal perjalananya. Tetapi hanya oleh
karena satu alat yang tidak terlalu besar yang namanya kompas dan radar
bagi pesawat. Tanpa kompas dalam sebuah kapal sama dengan kegelapan
yang paling gelap, sebab akan terombang-ambing oleh gelombang tanpa arah
yang jelas dan tanpa radar bagi sebuah pesawat sama dengan kesesatan.
Setiap manusia yang lahir di dunia ini bukan karena
kebetulan. Ada tujuan dibalik kehadirannya di permukaan bumi ini. Allah
punya tujuan yang unik dan khusus bagi setiap kita dan tujuan itu adalah
untuk mempermuliakan Dia, Yesaya menulis demikian “Semua orang yang
disebutkan dalam nama-Ku yang kuciptakan untuk kemuliaan-Ku yang ku
bentuk dan juga kujadikan.”(Yes. 43:7).
Namun hidup dalam memuliakan Tuhan tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan. Berbagai tantangan awan dan kegelapan
kehidupan menguji kesetiaan kita untuk tetap ada dalam koridor yang
benar sesuai keinginan Tuhan. Tetapi jangan pernah putus asa dan mundur
dari perlombaan hidup yang sedang dijalani sebab Yesus sudah memberi
teladan yang baik dengan kesetiaan-Nya menjalani penderitaan sampai
akhir tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini. Jadikan Kristus sebagai kompas
hidupmu supaya sampai pada tujuan yang Allah kehendaki dalam hidupmu.
Biar badai kesulitan, amukkan penderitaan, medan persoalan, hujan
krisis, terpaan penyakit, silih berganti jangan pernah berpaling tetapi
tetap melangkah sesuai kompas hidup kita, jalani dengan mata yang
tertuju kepada Yesus.
Sebuah Perenungan
Rumah yang paling indah adalah yang di dalamnya ada cinta
Makanan yang paling lezat adalah yang disantap dengan hati bersyukur
Penyembahan paling tinggi adalah dengan segala kesungguhan dan ketulusan
Kesuksesan sejati adalah ketika kita memunyai karakter Kristus
Pencerahan sejati adalah ketika kita mampu berkata: "Semua kuanggap sampah, karena pengenalanku akan Kristus."
Orang paling kaya adalah ketika kita selalu berdoa: "Tuhan Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya."
Kemiskinan yang paling miskin adalah ketika kita tidak sanggup memberika sebuah pujian pada orang lain
Pelayanan yang paling murni adalah ketika kita memberikan lebih dari apa yang kita dapatkan
Hamba Tuhan sejati adalah mereka yang mampu berkata: "Kami hanya melakukan apa yang Tuhan suruh kami lakukan."
Penghargaan sejati adalah ketika Tuhan Yesus berkata "ENGKAU HAMBAKU YANG BAIK."
Makanan yang paling lezat adalah yang disantap dengan hati bersyukur
Penyembahan paling tinggi adalah dengan segala kesungguhan dan ketulusan
Kesuksesan sejati adalah ketika kita memunyai karakter Kristus
Pencerahan sejati adalah ketika kita mampu berkata: "Semua kuanggap sampah, karena pengenalanku akan Kristus."
Orang paling kaya adalah ketika kita selalu berdoa: "Tuhan Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya."
Kemiskinan yang paling miskin adalah ketika kita tidak sanggup memberika sebuah pujian pada orang lain
Pelayanan yang paling murni adalah ketika kita memberikan lebih dari apa yang kita dapatkan
Hamba Tuhan sejati adalah mereka yang mampu berkata: "Kami hanya melakukan apa yang Tuhan suruh kami lakukan."
Penghargaan sejati adalah ketika Tuhan Yesus berkata "ENGKAU HAMBAKU YANG BAIK."
Joice dan TUHAN
Joice, anak kami, sudah mulai bisa berjalan sendiri.
Sebelumnya harus dipegang tangannya atau dititah. Sebelum itu cuma bisa
merangkak. Sebelum bisa merangkak, tidak bisa kemana-mana kecuali
digendong. Sebelumnya hanya bisa menangis, sekarang sudah bisa bilang,
"papa, mama, matematika" (ups...kalau yang ini belum). Saya dan istri
sangat senang melihat pertumbuhan Joice. Saya membayangkan, demikian
juga dengan TUHAN. TUHAN pasti senang melihat pertumbuhan kita,
anak-anak-Nya. Dulu kita nggak bisa berjalan "dengan benar", sekarang
bisa berjalan dalam terang firman-Nya. Dulu suka gosip, sekarang suka
mendoakan orang. Seperti saya senang melihat pertumbuhan Joice, TUHAN
juga pasti senang melihat pertumbuhan rohani anak-anak-Nya.
Joice, anak kami, juga sudah bisa membuka pintu
sendiri. Sebenarnya bukan dia, tapi saya. Saya gendong dia sambil
berkata: ayo pintunya dibuka. Tangannya yang mungil segera meraih pintu
yang tertutup. Diam-diam, tangan saya memegang handle pintu dan
membukanya pelan-pelan, lalu kaki saya membuka pintu itu lebih lebar.
Joice tetap dengan tangan yang memegang pintu. Setelah pintu terbuka,
Joice tampak senang. Apalagi ketika saya bilang: Wah, pinter, sudah bisa
membuka pintu. Joice pun tersenyum manis. Saya membayangkan TUHAN, Bapa
kita. Ada banyak hal yang Dia lakukan untuk kita, tapi sering kali kita
merasa kitalah yang melakukannya. Ada persoalan berat, TUHAN
selesaikan, kita merasa kitalah yang menyelesaikan. Ada pekerjaan berat,
tugas berat, kita berhasil melakukan dengan baik, kadang kita lupa,
TUHAN "diam-diam" melakukannya untuk kita.
Joice, anak kami, suka main air. Sesudah mandi,
biasanya sulit sekali diajak keluar dari tempat dia berendam. Kalau
sudah begitu, saya terpaksa menggendong dia dan membawanya keluar dari
air, walaupun dia menangis. Dia menangis dengan keras, saya tidak
peduli. Pikirnya, mungkin, "Papaku tidak sayang aku, tidak senang
melihat aku senang." Saya tidak mau membiarkan Joice berlama-lama di
dalam air supaya tidak masuk angin. Saya membayangkan TUHAN juga
demikian. Sering kali TUHAN "menarik" kita dari kenikmatan hidup (baca:
dosa) agar kita tidak celaka. Kita terkadang sulit memahami apa yang
TUHAN lakukan seperti Joice yang masih sulit memahami apa yang saya
lakukan. Tapi percayalah, TUHAN melakukan kebaikan dan kebaikan dan
kebaikan dan kebaikan untuk kita. Tidak ada hal jahat yang TUHAN lakukan
untuk kita. Sekalipun, kita sulit memahaminya.
Joice, anak kami, pernah sakit. Dari mulai sakit
mata, batuk, pilek, gatal di kulit, dsb. Sebagai seorang ayah saya
merasa kasihan. Terkadang saya berpikir, kalau memungkinkan biarlah saya
saja yang menanggung sakit Joice. Saya tidak tega. Tiba-tiba saya
teringat Bapa saya, TUHAN. Bukankah firmanNya berkata: sesungguhnya
penyakitmulah yang AKU tanggung, dan kesengsaraanmu yang AKU pikul.
TUHAN, Bapa kita, juga tidak tega melihat kita sakit. DIA ingin
menanggung setiap sakit penyakit kita. Dan DIA sedah melakukan itu di
atas kayu salib. Luar biasa!! Sakit jasmani dan sakit rohani (dosa)
kita, ditanggung-Nya di atas kayu salib. Ini bukan karena kebaikan kita.
Bukan karena kita layak mendapatkannya. Bukan karena kita lebih baik
daripada orang lain. Tapi semata-mata karena anugerahNYA.
Joice, anak kami, membuat saya belajar hati Bapa, TUHAN kita.
Semoga memberkati. Amin.
Refleksi Teladan Kepemimpinan
Oleh: Maryono
Gembala: Pemimpin yang melayani
Kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah kita telah menjalankan tugas pengembalaan dengan baik.
Tulisan ini adalah sebuah Refleksi dari pertanyaan
tersebut diatas yakni bentuk penggembalaan atau pelayanan sebagai tugas
dari Pendeta, Penatua, Diaken. Banyak kriteria dan ciri-ciri pelayanan
yang berkenan di hadapan Allah berdasarkan Alkitab, antara lain:
Pertama, melayani dengan kerelaan
artinya tanpa imbalan atau keinginan memperoleh jasa dan atas kemauan
sendiri mengambil bagian dalam pelayanan. Seperti jemaat di Makedonia
dengan kerelaan sendiri meminta dan mendesak agar beroleh kasih karunia
untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus (2
Korintus 8:4) ;
Kedua, melayani dengan kesetiaan
artinya menempatkan diri kita sebagai hamba (budak) yang harus pasrah
terhadap perintah Tuannya, Yesus Kristus. Pelayan sebagai hamba yang
selalu mencari kesukaan Tuannya bukan kesukaan manusia. Kata Paulus:
Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku
bukanlah hamba Kristus (Galatia 1:10).
Ketiga, melayani dengan ketaatan dan
kepatuhan artinya segala pikiran yang menyerah dan tunduk kepada kuasa
Allah, karena Allah memerintahkannya. Bahkan bila kita menghadapi
pergumulan sehari-hari terhadap kehidupan sosial: Kita harus taat kepada
Allah daripada kepada manusia (Kisah Rasul 5:29). Demikian pula Kristus
dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8).
Keempat, melayani dengan ketekunan
artinya melakukan pekerjaan lebih penting dari pada status jabatan
(misal penatua di Gereja) dan melaksanakan tugas bukanlah semangat yang
sebentar, suam-suam kuku. Melayani Dia siang dan malam di Bait Suci-Nya
(Wahyu 7:15),
Kelima, melayani dengan tulus dan
rendah hati artinya pelayanan yang bersumber dari respon dan perasaan
terima kasih atas anugerah yang diterima dari Allah. Sebab segala
sesuatu dari Dia, kata Paulus : supaya kamu mempersembahkan tubuhmu
sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada
Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1).
Keenam, melayani dengan sukacita,
suatu ungkapan lahiriah yang bergairah dan semangat seperti Jemaat di
Makedonia walaupun dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan,
sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka
kaya dalam kemurahan (2 Korintus 8:2).
Ketujuh, melayani dengan dedikasi
yang bermakna tidak terpengaruh dengan besar kecilnya bentuk pelayanan
yang dilakukan, apakah melayani di kolong jembatan atau di tempat-tempat
yang mewah. Paulus berkata: sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia
berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri
(Galatia 6: 3). Pesannya adalah jangan menganggap reputasi jabatan,
status sosial kita terlalu tinggi untuk melayani saudara kita yang
miskin, lemah dan tak berdaya, sebenarnya kita bukan apa-apa di hadapan
Allah.
Kriteria itu semua, seharusnya stAndar jawaban
pertanyaan dalam topik tulisan ini, yang menyuarakan tidak hanya suara
hati tetapi juga nilai-nilai tertentu dalam kehidupan pribadi gembala
atau pemimpin di lingkungannya, sehingga gembala atau pemimpin dapat
diterima dan dipercaya jemaat atau pengikutnya. Kriteria itu menuntut
Self Denial, penyangkalan diri, Hal inilah yang dituntut Yesus: setiap
orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya dan mengikut Aku (Markus 8:34). Pengikut Yesus memberikan
dirinya bukan untuk suatu imbalan, tetapi “memberi” karena itu kebenaran
yang harus dilakukan. Dan inilah yang membedakan Pemimpin rohani dan
pemimpin sekuler atau pemimpin sebagai panggilan atau pemimpin sebagai
profesi.
Pertanyaannya, bagaimana jemaat dapat mengetahui
bahwa pemimpin atau gembalanya (Pendeta, Penatua, Diaken) telah
melakukan nilai-nilai tersebut di atas? Sederhana, ya, sederhana. Orang
melihat, mengamati dan menilai sikap. Jemaat melihat dan menilai seorang
gembala harus memunyai standar moral yang tinggi. Kalau Anda menyanyi:
gembala juga manusia! Ya, benar, manusia yang memunyai standar moral
lebih tinggi dari pengikutnya bahkan orang kebanyakan umumnya. Hal ini
adalah nilai-nilai yang dianut oleh jemat bagi pemimpin rohani mereka.
Penulis Ibrani mengingatkan: Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang
telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup
mereka dan contohlah iman mereka (Ibr. 13: 7 ).
Memang, Alkitab penuh dengan kata hikmat sebagai
petunjuk kehidupan ataupun penggembalaan. Tetapi hanya membaca dan
mengajarkan Alkitab dengan suara keras, bersemangat, berapi-api bagaikan
orator ulung tidak akan membuat seorang layak menjadi gembala.
Kata-kata atau pesan tidaklah cukup, karena satu hal penting yang
berpengaruh terhadap pengikut atau warga jemaat adalah pemberian teladan
yang menyejajarkan tindakan pribadi sesuai dengan Firman Tuhan yang
diajarkannya. Ya, Jemaat atau pengikut mendengarkan pesan dalam khotbah,
ceramah, atau nasehat dari gembalanya, tetapi mereka juga mengikuti
jejak kaki (keteladanan) gembalanya. Oleh karena itu, hikmat dalam
Kumpulan amsal-amsal Salomo mengingatkan: Siapa bersih kelakuannya, aman
jalannya (Ams 10:9a).
Pelajaran apa yang dapat dipetik, apabila berkomitmen menjadi pelayan Tuhan seperti gembala atau pendeta atau majelis:
1. Kehidupan mereka adalah cermin yang memantulkan prinsip-prinsip ajaran Tuhan yang ingin diikuti pengikut atau jemaatnya.
2. Seorang yang “terpanggil” menjadi pelayan Tuhan
harus bertanya: Siapa sebenarnya yang dilayani dan apakah siap
menderita! Ini menuntut ketekunan, kerendahan hati dan resiko.
3. Akhirnya, apabila kita berkomitmen menjadi Pelayan, antara lain dapat direnungkan :
Apakah kita konsisten antara tindakan dan ajaran
Firman Tuhan sebagai petunjuk kehidupan orang percaya ? karena fungsi
sebagai “panutan”, Jangan mengajarkan sesuatu yang tidak Anda miliki.
Bagaimana cara menghabiskan waktu kita sehari-hari
dalam pelayanan? Artinya apabila waktu kita masih terlalu sibuk dengan
lebih mementingkan pribadi, pekerjaan, atau seorang Majelis ternyata
lebih banyak dirumah menonton TV dari pada kunjungan ke warga, mungkin
perlu direnungkan keterlibatan kita dalam pelayanan.
John Maxwell dalam bukunya The 21 Irrefitable Laws of
Leadership memberitahu kita untuk: “Memproses diri sendiri lebih dulu
sebelum memproses orang lain". Oleh karena faktanya, lebih mudah
mengajarkan apa yang benar dibanding melakukan apa yang benar
Selamat Melayani.
Kesaksianku
Nama saya Yohana Cahyadi. Melalui kesempatan ini saya
ingin memberikan kesaksian hidup dari mama saya. Saya anak pertama dari
4 bersaudara. Saya lahir dari seorang mama yang mengasihi Tuhan. Dari
kecil saya sudah dididik untuk mengasihi dan melayani Tuhan. Mama pun
juga adalah seorang yang melayani Tuhan dalam gereja.
Kejadian ini bermula pada tanggal 3 Juli 2010, di
mana mama divonis dokter mengidap kanker usus stadium 4 dan sudah
menyebar ke bagian paru-paru, rahim dan bagian lainnya. Keadaan demikian
membuat mama dan keluarga kehilangan semangat. Saya bertanya pada Tuhan
kenapa mama seorang yang mengasihi dan melayani Tuhan bisa mengalami
hal yang demikian. Namun di tengah kondisi yang demikian kami tetap
datang pada Tuhan.
Pada saat itu mama mengatakan bahwa Tuhan tidak
pernah salah, rancangan-Nya adalah yang terbaik. Kata-kata itulah yang
membuat saya sekeluarga kembali dikuatkan. Setelah divonis demikian
akhirnya pihak keluarga sepakat agar mama mengambil langkah kemotherapy.
Pada masa kemo saya dapat melihat bahwa Tuhan yang saya miliki adalah
Tuhan yang setia yang menyediakan semua keperluan mama untuk pengobatan.
Kami sekeluarga bukan keluarga yang kaya, namun untuk keperluan
pengobatan mama selalu aja tercukupi tepat pada waktunya.
Pada saat itu keluarga mulai melihat sedikit
pengharapan supaya mama dapat sembuh. Namun setelah kemo yang ketiga
ditemukan tumor besar pada bagian otak belakang mama. Tumor ini menjepit
syaraf otak sehingga mama merasakan sakit di kepala seperti ditusuk
jarum. Saya baru pertama kali melihat mama menangis karena menahan
sakit. Saat itu mama menangis karena tidak kuat menahan sakit demikian,
namun saat kondisi demikian mama tetap memanggil Tuhan Yesus. Dalam
kondisi demikian tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mama
yang menyalahkan Tuhan. Mama selalu berkata jalan Tuhan itu benar. Ada
sebuah nyanyian berkata, "Sandar Yesus, mesra, nyaman, alami kuasa
darah; iman sederhana saja, semua sakit sirnalah." Mama mengalami pujian
ini. Setiap ada saudara/saudari menjenguk, mama malah menghibur dan
menguatkan saudara/saudari melalui doanya.
Hari demi hari dilewati mama dengan terus bersandar
pada Tuhan. Banyak kenalan yang tidak percaya ketika diberitahu kondisi
mama yang kanker stadium 4 karena memang badan mama tidak terlihat
seperti orang yang memiliki sakit yang mengerikan itu. Hanya saja memang
mukanya terlihat pucat. Satu hari sebelum mama meninggal, mama masih
sempat mendorong anak rohaninya untuk tetap setia mengikut Tuhan. Bahkan
di saat terakhirnya mama menyanyikan sebuah lagu yang berkata, "Aku
mengasihi Engkau Yesus dengan segenap hatiku." Saudara/saudari inilah
Tuhan yang kita miliki di dalam kita. Meskipun kita berada dalam situasi
sulit asalkan kita datang kepada-Nya, belajar bersandar pada-Nya, Tuhan
bisa kita alami secara riil. Banyak pelajaran rohani yang mama ajarkan
kepada saya selama ia sakit. Satu hal yang paling berharga yang dia
ajarkan kepada anak-anaknya adalah imannya. Saya sungguh bersyukur atas
kesaksian hidup seorang mama yang Tuhan berikan untuk saya.
Kayu yang Kasar
Bernoda darah langkah kaki-Nya
Berjalan mengarah ke salib
Menanggung derita
Korbankan nyawa-Nya...
Berjalan mengarah ke salib
Menanggung derita
Korbankan nyawa-Nya...
Karena penolakan manusia
Bapa berpaling dari-Nya
Dinobatkan sebagai Raja
Ditinggalkannya sendirian
Bapa berpaling dari-Nya
Dinobatkan sebagai Raja
Ditinggalkannya sendirian
Terputus dari Bapa
Terluka oleh manusia
Tubuh-Nya terbujur kaku
Tergantung di kayu yang kasar
Terluka oleh manusia
Tubuh-Nya terbujur kaku
Tergantung di kayu yang kasar
Tubuh kaku terbungkus kain linen
Dibungkus dengan penuh kasih;
Bergerak selama tiga hari,
Terbaring dimakamkan di sana.
Dibungkus dengan penuh kasih;
Bergerak selama tiga hari,
Terbaring dimakamkan di sana.
Dia BANGKIT dari kuburan-Nya
Yang dijaga dengan ketat
Sekarang ditaklukkan selamanya
Kematian tidak berkuasa mencengkeramnya ...
Yang dijaga dengan ketat
Sekarang ditaklukkan selamanya
Kematian tidak berkuasa mencengkeramnya ...
Kemuliaan mengalir dari Surga,
Menerangi dunia yang gelap
KAYU KASAR membuktikan Yesus hidup!
Paskah dimulai!
Menerangi dunia yang gelap
KAYU KASAR membuktikan Yesus hidup!
Paskah dimulai!
Efesus 2:4
Waktu
Waktu, Siapakah Engkau ?
Aku serasa mengenalmu tapi tak pernah melihatmu.
Sang Nabi berkata di kitab Kejadian 1:14;
demikianlah firman Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala
untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu
menjadi tanda yang menunjukan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan
tahun-tahun.
Waktu, apakah engkau hanya catatan hari berganti hari dan tahun berganti tahun?
Bukankah setiap bangsa telah mencatat hari-hari,
bulan-bulan dan tahun-tahun mereka. Dan setiap tahun mereka merayakan
pergantian tahun.
Aku pun telah mencatat hari lahirku dan pada waktu aku meninggal nanti seseorang akan mencatat hari kematian di batu nisanku.
Waktu, engkau serasa ada tetapi manusia hanya mampu
mencatat hari-hari, bulan-bulan, tahun-tahun dari benda-benda langit
yang diciptakan Allah.
Waktu milik siapakah engkau?
Ketika aku berkata “waktuku”, apakah benar engkau milikku ?
Aku dapat memberikan uang dan harta bendaku tetapi aku tidak dapat memberikan waktuku kepada orang lain.
Ketika aku melihat orang yang sudah tidak dapat menghitung waktu ternyata aku masih dapat menghitung waktu.
Demikian juga ketika aku dan kamu sudah tidak dapat menghitung waktu tetapi orang lain masih dapat menghitung waktu.
Waktu ternyata engkau tetap ada baik ketika aku ada maupun ketika aku tiada.
Waktu, ternyata engkau bukan milikku tetapi milik Penciptamu.
Waktu, engkau hanya dipinjamkan oleh Pencipta mu kepada setiap orang, tanpa tahu berapa lama engkau dipinjamkan.
Ketika fajar menyingsing, manusia bergegas ke
sekolah, kuliah, bekerja, kemudian makan siang, makan malam dan ketika
matahari tenggelam mereka beristirahat.
Waktu, engkau bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Waktu, engkau sangat berkuasa sehingga mampu membelenggu setiap orang, dan mengatur seluruh kehidupan dan kegiatan manusia.
Waktu, engkau adalah gambar dari seluruh kegiatan,
perbuatan, ingatan akan hari-hari yang indah, maupun hari-hari yang
menyedihkan.
Waktu, setiap orang harus tunduk kepadamu,dan sesungguhnya, Pencipta mu Maha Besar dan berkuasa atas kehidupan manusia.
Hamba bersyukur untuk waktu yang dipinjamkan dan hamba berserah mengikuti waktu yang Engkau ciptakan.
Bimbing hambamu agar mengerti kehendakMu sehingga perbuatan yang merupakan gambar dari waktu dapat berkenan kepadaMu.
Seperti sang Nabi memohon di Mazmur 90 :12: Ajarlah
kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang
bijaksana.
Diambil dari: www.secercahcahaya.com
Berbuat Baik
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." Efesus 2:10
Sering kita mendengar pernyataan bahwa perbuatan baik
itu belum tentu dibalas dengan kebaikan pula. Pertanyaannya adalah
apakah lantas kita memilih untuk tidak berbuat baik kepada orang lain?
Tentu jawabannya adalah tidak.
Perbuatan baik adalah kewajiban bagi semua orang
tanpa harus mempertimbangkan alasannya apa, kalau berbuat baik itu
memiliki alasan tertentu berarti perbuatan baik yang kita lalukan
tersebut bukanlah perbuatan yang tulus. Jika perbuatan baik itu diikuti
dengan “pamrih”, maka perbuatan baik itu bukanlah tindakan yang utuh.
Seperti kata pepatah di atas, ketika kita akan
melakukan perbuatan yang baik kepada orang lain tetapi di sertai dengan
pemikiran bahwa apakah nanti kebaikan saya juga akan mendapatkan balasan
yang baik? Apakah ada keuntungannya buat saya ketika saya melakukan
kebaikan bagi orang lain? dan apakah orang lain tersebut mau menerima
kebaikan saya? Jika kita berpikir demikian, maka selamanya kita tidak
bisa melakukan hal yang baik kepada orang lain.
Melalui Efesus 2:10 kita diingatkan kembali bahwa
kita diselamatkan Tuhan bukan untuk menjadi orang yang pasif, melainkan
kita dituntut untuk menjadi orang yang aktif. Aktif dalam hal apa? Aktif
dalam hal melakukan pekerjaan baik. Melakukan perbuatan yang baik
kepada orang lain adalah perwujudan iman yang aktif seperti yang
dikehendaki oleh Tuhan.
Yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana dengan
tindakan kita di dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang yang sudah
diselamatkan Tuhan?
Sudahkah kita melakukan tindakan atau perbuatan yang
baik? Ataukah sebaliknya, kita seringkali menjadi batu sandungan dan
tidak menjadi berkat bagi orang lain.
Marilah kita senantiasa melakukan perbuatan yang baik
bagi kehidupan orang lain dengan terus mengingat bahwa Tuhan telah
terlebih dahulu melakukan kebaikan dalam hidup kita dan telah
menyelamatkan kita. Dimanapun kita berada, baik di lingkungan tempat
kita belajar, tempat kita bekerja, dan bahkan di manapun tempat kita
bersosialisasi/berkomunikasi dengan orang lain, tebarkanlah benih-benih
perbuatan yang baik. Sehingga dengan kehadiran kita di manapun, dalam
situasi apapun, orang lain diberkati.
Amin.
Hukum Kelimpahan
Suatu hari yang indah, seorang kakek tua hendak
menaiki bus. Pada saat dia hendak menginjakkan kakinya ke anak tangga
bus, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Seketika bus
tertutup dan bergerak dengan cepat, sehingga dia tidak bisa memungut
sepatu yang terlepas tadi. Lalu si kakek yang tua itu dengan tenang
melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela bus
sambil tersenyum.
Seorang pemuda yang duduk di sebelahnya dan melihat
kejadian itu keheranan, dan bertanya kepada si kakek tua, "saya
memerhatikan apa yang kakek lakukan. Mengapa kakek melempar sepatu yang
sebelah juga?"
Si kakek menjawab "Supaya siapa yang menemukan sepatu saya bisa memanfaatkannya."
Ternyata si kakek itu memahami filosofi dasar dalam hidup.
JANGAN MEMPERTAHANKAN SESUATU HANYA KARENA KAMU INGIN MEMILIKINYA ATAU KARENA KAMU TIDAK INGIN ORANG LAIN MEMILIKINYA.
Karena kelekatan akan sesuatu (benda, materi,peristiwa ataupun seseorang) membuat hidup kita terbatas.
Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup.
Kehilangan tersebut pada awalnya tampak tidak adil dan merisaukan, tapi
itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.
Seperti si kakek dalam cerita itu mengajarkan kepada kita untuk belajar dengan rela melepaskan sesuatu.
Tuhan sudah menentukan bahwa, memang itulah saatnya
si kakek tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja si kakek itu kehilangan
sepatu supaya nanti dia bisa mendapatkan sepasang sepatu baru yang lebih
baik. Satu sepatu hilang, dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan
bernilai banyak bagi si kakek. Tapi dengan melemparkan keluar jendela,
sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandagan yang
membutuhkannya.
BERSIKERAS MEMPERTAHANKANNYA TIDAK MEMBUAT KITA ATAU DUNIA AKAN MENJADI LEBIH BAIK.
Kita semua harus memutuskan kapan sesuatu hal atau
seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik
bersama yang lain.
KERELAAN KITA AKAN MEMBERIKAN RUANG PERTUMBUHAN BAGI HIDUP KITA SENDIRI.
Memang tidak mudah bagi kita melepaskan sesuatu yang
telah menjadi milik kita. Namun, Tuhan telah menjanjikan bahwa segala
sesuatunya telah dia sediakan bagi semua yang percaya akan
rancangan-Nya.
Pengorbanan yang Tersembunyi
Syalom. Puji Tuhan!! Saya akan menyaksikan keberadaan
hidup saya bersama dengan Tuhan Yesus Kristus. Ketika saya datang ke
Bali, saya bingung apa yang harus saya kerjakan. Sementara saya juga
berapi-api untuk menjadi Misionaris di Bali. Ketika tiba di sana, saya
tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian saya bekerja di sebuah radio
swasta, tapi hanya mampu 1 bulan karena memang saya tidak ada niat untuk
bekerja.
Saya mendapat peneguhan dari panggilan Tuhan untuk
terus giat memberitakan Injil. Akhirnya saya berkeputusan untuk mengajar
anak-anak yang kurang mampu (miskin) di desa-desa tanpa pungutan biaya
dan sampai hari ini biaya operasional dari kantong sendiri sementara
penghasilan tidak ada dan tidak ada support dari pihak mana pun untuk
pergi melayani di desa-desa. Saya masih berpikir, karena untuk membeli
bensin saja tidak ada uang. Sementara saya juga baru menikah dengan
istri saya, Dewi. Tapi Puji Tuhan, hingga saat ini kami hidup dengan
iman. Sebelumnya juga saya pinjam motor untuk melayani di desa. Pernah
suatu saat tiba-tiba ban sepeda motor saya pecah, dan waktu itu saya
tidak membawa uang sama sekali. Akhirnya saya menitipkan SIM saya. Baru
beberapa hari kemudian saya bisa menebus SIM itu.
Sampai hari ini kami bisa hidup dari pelayanan kami
di desa. Ketika kami pulang dari sana untuk kembali ke Denpasar, kami
selalu membawa buah-buahan maupun sayur. Puji Tuhan saat ini kami juga
tetap melayani anak-anak di sana. Kami bercerita tentang nilai-nilai
kebenaran Tuhan Yesus dan sebagian dari orang tua mereka mau didoakan
dan terima Tuhan Yesus. Saat ini saya sedang membuka kursus anak-anak di
tempat yang baru.
Terima kasih untuk saudara yang mau membaca kesaksian
pelayanan saya dan doakan agar pelayanan di desa ini makin berkembang
dan orang tua mereka mau mendegar Kabar Baik. Juga doakan biaya
kebutuhan operasional saat ini yang menjadi pergumulan kami ke depan.
Tuhan Yesus Memberkati.
Langganan:
Postingan (Atom)



