Sabtu, 15 September 2012





Kemerdekaan yang Bertanggung Jawab

Shalom,
Telah enam puluh lima tahun bangsa ini merdeka,
terhitung sejak dibacakannya teks proklamasi oleh Bapak Proklamator;
Soekarno dan Hatta. Untuk memperoleh pengakuan "merdeka" tidaklah
mudah, banyak hal yang sudah dikorbankan. Ribuan nyawa telah gugur di
medan perang untuk merebut kemerdekaan dari penjajah. Setelah
proklamasi dikumandangkan pun, Indonesia tidak serta-merta bebas dari
masalah. Masih banyak tantangan dan hambatan yang terus menyertai
langkah bangsa ini.
Begitu juga dengan kehidupan kita. Sebagai seorang
Kristiani yang telah lahir baru, kita pun sudah dibebaskan oleh dosa.
Kita dimerdekakan oleh pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Kita
tidak lagi mengenakan kuk perhambaan (Galatia 5:1). Namun, tentu saja
ada kemungkinan kita jatuh ke dalam berbagai bentuk perbudakan lain
seperti ajaran-ajaran dan tradisi yang menyesatkan. Itulah tantangan
bagi kita. Mampukah kita tetap mempertahankan kemerdekaan dalam
Kristus?

Ombak

Oleh: Maghdalena
Suatu hari saya ke sebuah pantai, di sana saya duduk di tepi karang. Saat itu saya sedang mengalami masalah dan mengalami pergumulan, di sanalah saya ingin menyendiri.
Sewaktu saya duduk, datanglah deburan ombak, lalu memecahkan karang di hadapan saya.
Karang itu mengalami pecahan sedikit demi sedikit. Lalu saya merenung, ombak itu hanyalah berupa kumpulan air laut yang bergerak, namun dia dapat menerjang apa pun di hadapannya, walaupun itu karang sekalipun, seolah dia mempunyai energi yang besar.
Namun jika dia tidak ada angin, dia hanya aliran air laut biasa yang tidak mampu menerjang apa pun; dia dapat menerjang semuanya itu hanya jika angin membantunya.
Lalu saya mendapati kesamaan kehidupan manusia dengan ombak tersebut.
Setiap manusia dapat mengatasi masalah apa pun, namun itu hanya terjadi jika Tuhan mendukungnya.
Sama seperti ombak yang dapat menerjang apapun jika angin membantu membuat gelombang yang besar dan kuat.
Di situlah saya menyadari kekuatan saya sebagai manusia tidaklah ada apa-apanya jika tanpa dukungan Tuhan dalam membantu saya menghadapi masalah saya.
Dalam kehidupan ini, kita tidak dapat mengatasi masalah jika kita tidak mengandalkan-Nya. Andalkan Tuhan, dan semuanya akan mengikuti dengan sendirinya.

Never Give Up!

Oleh: Lia Sutandio
Seorang wanita bernama Lovely sedang mengalami suatu kebosanan dengan keadaan dirinya yang mengalami berbagai masalah yang tiada hentinya. Dia mengalami begitu banyak tekanan di perusahaannya. Dia sedang menantikan mujizat untuk hubungannya dengan calon suaminya. Dia juga mengalami masalah dalam keluarganya. Dan semuanya itu seperti tidak ada ujungnya.
Puncaknya, pada suatu hari, Lovely menangis tiada hentinya sepanjang hari itu, tidak bisa konsentrasi dalam mengerjakan segala sesuatunya, mengalami banyak kesalahan, sehingga masalah-masalah kecil pun mulai menambah beban di hati dan pikirannya.
Lovely mengalami kekecewaan yang cukup besar kepada orang-orang di sekitarnya dan (yang paling bahaya) Lovely juga merasa marah karena merasa sangat kecewa dengan Tuhan, yang dianggapnya tidak menyayanginya lagi dan telah berbuat jahat kepadanya.
Lovely benar-benar merasa sangat tertekan, sampai-sampai di dalam hatinya berkata bahwa dia benar-benar mau berserah kepada Tuhan dalam arti bukan percaya tetapi menganggap bahwa dirinya memang diciptakan untuk mengalami hari-hari yang sial sehingga Lovely tidak mau berusaha lagi untuk menjalani masalah-masalahnya itu.
Sampai pada waktu menjelang malam, Lovely membuka Facebook dan membaca status seorang sahabatnya yang bernama Morine, yang kelihatannya sedang kesal. Lovely ingat akan kotbah seorang pendeta yang berkata “jika Anda mengalami masalah dan beban terasa begitu berat, maka sebaiknya Anda mencari orang lain yang sedang mengalami masalah juga dan hiburlah dia, sehingga Anda akan bersyukur karena masalah Anda ternyata tidak lebih berat dari masalah yang dihadapi orang lain”. Oleh karenanya Lovely berniat untuk menghibur sahabatnya ini.
Lovely mulai menyapa sahabatnya ini melalui BlackBerry, singkat cerita Morine hanya mengalami kesal sesaat saja, jadi sebenarnya dia tidak sedang mengalami masalah. Tetapi sebelum Lovely sempat mengakhir pembicaraan itu, Morine bertanya mengenai kabar Lovely dan Lovely pun masih menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.
Sebagai sahabat, Morine mengetahui semua masalah yang dihadapi oleh Lovely. Jadi kemudian Morine mempertanyakan kelanjutan dari masalah-masalah yang dialami oleh Lovely, dengan harapan ada kabar baik yang akan didengarnya. Tetapi Lovely menjawab dengan singkat bahwa masalahnya itu semua belum selesai. Morine yang tidak mengetahui kondisi Lovely saat itu, dengan lincahnya berkata bahwa akhir-akhir ini dia sedang gencar-gencarnya mendoakan Lovely agar segera mendapatkan mujizat untuk semua masalahnya itu agar Lovely mengalami kemenangan demi kemenangan.
Lovely sangat terkejut membaca semua perkataan Morine dan Lovely pun menangis tiada henti karena merasa dirinya saja sudah menyerah, tetapi ternyata diketahuinya bahwa sahabatnya telah berdoa untuknya.
Lovely menceritakan keadaannya saat itu dan dia pun meminta maaf karena sebenarnya dia sudah benar-benar lelah dan hendak menyerah. Tetapi Morine terus menguatkan, menghibur, dan memberinya semangat, sehingga akhirnya Lovely berusaha untuk bangkir kembali, walaupun hati masih terasa berat.
Ada berapa banyak dari pembaca saat ini yang sedang mengalami masalah yang bertubi-tubi, yang terlihat hanya jalan buntu untuk masalah itu, dan beban yang terasa begitu berat?
Saat ini kita tidak perlu membicarakan tentang kasih Tuhan atau berkata bahwa Tuhan pasti melihat kesusahan kita, karena ketika kita mengalami masalah, realitanya kita sulit untuk bisa melihat Tuhan itu ada di dekat kita. Tetapi mari kita pikirkan bahwa ada teman, sahabat, saudara, dan tim doa yang mendoakan kita, walaupun mungkin mereka tidak mendoakannya secara spesifik, tetapi ketika mereka berdoa, mereka memiliki iman untuk kita, dan kalau pun mereka tidak ingat untuk mendoakan kita, ketahuilah bahwa Roh Kudus pasti bisa menggerakan hati orang-orang tertentu untuk mendoakan kita.
Lalu, kalau ada orang-orang yang berdoa dan mempunyai iman untuk kita, apakah kita masih ingin menyerah terhadap masalah kita? Kalau ada orang-orang yang turut berteriak memohon jalan keluar untuk masalah kita, apakah kita masih bisa tidak percaya bahwa Tuhan tidak mungkin selamanya acuh terhadap kita?
Bayangkan, seandainya kita berada dalam pertandingan lari, dan di tengah-tengah ketika merasa lelah, ada seseorang yang berusaha memberi kita minum dan turut berlari dengan kita walaupun di luar arena, demi memberikan kita semangat, apakah kita rela berhenti berlari dan memenangkan pertandingan itu? Saya rasa tentu jawaban kita semua adalah tidak. Kecuali jika kita mengalami cedera yang cukup berat dan tidak bisa berlari lagi.
Demikian pula, jika saat ini ada dari para pembaca yang hendak menyerah karena merasa beban terasa begitu berat dan tidak sanggup lagi, selama kita masih belum benar-benar harus berhenti, mari kita melihat bahwa ada perjuangan doa dan iman dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Walau pun mungkin kita tidak melihat secara nyata bahwa ada orang-orang yang benar-benar berdoa untuk kita, tetapi percayalah bahwa dalam perjuangan, kita ini tidak sendirian. Jadi jangan kita menyerah!
Selain itu, dalam perjuangan iman, kadangkala Tuhan ingin kita tetap mempercayai-Nya walaupun tampaknya Tuhan seolah-olah sudah tidak mempedulikan kita atau walaupun tampaknya seolah-olah Tuhan memang menginginkan persoalan itu menghimpit kita, karena memang Tuhanlah Sang Pencipta yang paling mengetahui segala yang terbaik untuk kita.
Jadi apa pun yang terjadi, berusahalah untuk tetap mempercayai Tuhan, karena masa depan kita terbentang bersama-Nya.
Tuhan memberkati.
(Ide dari Erine Ratmawati)

Remover

Oleh: Lia Sutandio
Kebanyakan wanita, pasti mengenal beraneka ragam peralatan make up, dan tentunya para wanita tidak akan sembarangan memilih peralatan make up. Peralatan make up akan "lulus seleksi" bagi seorang wanita, jika memenuhi beberapa persyaratan yang "telah ditentukan" tentunya, salah satu persyaratan misalnya jika sesuai dengan jenis kulit wanita tersebut, warnanya cocok untuk digunakan, mereknya sesuai, harganya terjangkau, dan sebagainya.
Peralatan make up yang "dianggap murahan atau pasaran" katanya ada yang dapat menyebabkan wajah gatal-gatal, cepat luntur, atau kalau terlihat dari hasilnya itu tampak tidak bagus. Ada pula peralatan make up yang "dianggap mahal" dan bermerek, katanya pada waktu digunakan kualitasnya benar-benar tampak bagus, tidak mudah luntur, tampak halus, wajah tampak bersinar, dan ada begitu banyak hal yang bisa menjadi bahan komentar para wanita, sekali lagi semuanya itu tergantung dari jenis kulit dan "persyaratan" masing-masing wanita.
Pernah sekali saya mencoba sebuah remover (pembersih) yang akhirnya menimbulkan ide tulisan saya berikut ini. Saya menggunakan remover yang dilihat dari kualitas barang, harga, dan merek termasuk berada di bawah rata-rata. Pada waktu digunakan untuk menghapus sisa make up dengan merek tertentu mungkin remover tersebut dapat menghapusnya dengan mudah, tapi untuk sisa make up dengan merek yang lainnya tidak bisa dibersihkan dengan sempurna oleh remover tersebut.
Di suatu waktu yang lain, saya mencoba menggunakan remover yang memiliki kualitas dan harga yang cukup di atas rata-rata. Ketika digunakan untuk menghapus sisa make up dengan merek apa pun, remover ini mudah sekali untuk membersihkannya, sehingga saya tidak mengalami kesulitan untuk membersihkan sisa make up pada wajah saya.
Itulah sebabnya mengapa ada berbagai macam merek peralatan make up di pasaran yang dijual dan masing-masing wanita juga memiliki berbagai "persyaratan" di dalam memilih peralatan make up yang hendak mereka pakai.
Dari ilustrasi tersebut di atas, saya mendapatkan bahwa seperti halnya hati kita ini. Hati kita ini dapat terisi oleh berbagai macam hal, seperti kesabaran, kelemahlembutan, kebaikan, belas kasihan, kasih, dan berbagai hal baik lainnya. Tetapi sebaliknya hati kita juga dapat terisi juga oleh berbagai niat jahat, rasa benci, kemarahan, sakit hati, kepahitan, dan berbagai hal buruk lainnya. Tentu saja semuanya tergantung dari banyak faktor, yang pada akhirnya diri kita masing-masing lah yang menentukan hendak diisi dengan hal baik atau buruk hati kita ini.
Saya yakin setiap dari kita tidak akan pernah punya keinginan untuk mengisi hati ini dengan sesuatu yang buruk. Tetapi ada kalanya tanpa atau dengan kita sadari, hati kita ini dapat terisi oleh hal-hal yang jahat atau niat buruk.
Oleh karena pada dasarnya Tuhan menciptakan semua orang itu baik, maka bagi orang-orang yang "sadar" dan berniat ingin memperbaiki diri untuk menjadi seseorang yang lebih baik, maka yang terutama harus diperbaiki tentunya hati kita ini. Karena sumber dari segala sesuatu adalah hati, jika hati kita bersih, maka semua niat, perkataan, pikiran pun akan menjadi baik. Selain itu Tuhan juga selalu melihat hati. Jika DIA ingin memberkati kita, maka yang dilihatNYA pertama kali adalah bagaimana hati kita ini.
Dan tentunya semua orang tahu bahwa mengubah hati yang buruk menjadi yang baik itu tidaklah semudah teorinya. Walau pun mungkin bagi orang-orang tertentu untuk melakukan perubahan itu adalah hal yang mudah, tetapi memperbaiki segala sesuatu yang buruk menjadi baik itu bukanlah hal yang mudah.
Diperlukan “remover” (alat pembersih) yang tepat untuk bisa menghapus isi hati yang buruk dan menggantikan yang baik. Jika remover yang digunakan adalah yang “murahan”, maka sesuatu yang buruk di hati kita ini pasti tidak akan sepenuhnya terangkat bersih. Sebaliknya jika remover yang digunakan memiliki kualitas yang baik, maka "kotoran" yang ada di dalam hati ini pasti akan terangkat sempurna.
Dengan kata lain, jika kita menggunakan kekuatan kita sendiri, maka kita tidak akan pernah bisa menjadi sebuah pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Kalau pun bisa, pasti tidak akan bertahan lama. Tetapi jika kita mengandalkan kekuatan tangan Tuhan, maka perubahan yang sempurna, yang jauh lebih baik, bahkan lebih dari apa yang pernah kita bayangkan itulah yang akan terjadi.
Tuhan itu mampu mengubahkan setiap pribadi yang mau diubahkan. Jika saat ini kita ingin mengalami suatu perubahan di dalam hati dan pikiran kita, maka kita harus memilih dan mengijinkan Tuhan yang bekerja di dalam hati kita ini.
Tuhan Yesus memberkati.

Upah Kesetiaan

Kebaktian dewasa: biarlah miskin di sini, asal kaya di surga, biar sakit di sini asal senang di surga
Saudara yang kekasih dalam Tuhan, saya percaya memang kita akan dapat upah di surga. Tapi, untuk mendapatkan mahkota tersebut kita harus kerja keras dan sungguh-sungguh, setia dalam menghadapi pergumulan. Karena itu:
  • Ibu-ibu harus sabar hadapi suami yang pemarah, galak, tidak setia.
  • Bapak-bapak jangan terlibat dosa perzinahan, jangan selingkuh, dll.
  • Anak-anak muda pacaran yang normal, jangan melanggar hubungan seks sebelum menikah.
Bacaan Alkitab: 1 Kor 3:10-15
Apakah saudara emas, perak, batu, permata, kayu, rumput kering, atau jerami; tetap saja apa yang kita kerjakan suatu hari kelak akan diuji dengan api. Jika kita tahan uji, kita akan mendapat upah keluar dari api.
Yakobus 1:12 "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."
Ada empat upah kesetiaan yang saya catat:
  1. Kuasa Doa. Yakobus 5:16; yakin, setia, sungguh-sungguh akan melihat doa-doa kita terjawab: doa saja tidak cukup, kita juga harus setia. Luk 18:1; saya terlalu percaya kuasa doa, doa adalah segala-galanya. Kesetiaan adalah doa.
  2. Contoh: Seorang anak yang lesbian, homosex, kawin dengan tidak seiman, atau terjerat obat, didoakan oleh ibunya. Saya percaya itu baik. Tetapi setiap kali si ibu bertemu anaknya, ibunya mengomel, "Mama malu. Mama nih aktif di gereja, kamu malah modelnya begitu. Mama sakit hati, lama-lama mama bisa mati," Jika saudara berdoa tapi saudara membuat hambatan untuk mujizat terjadi untuk doa saudara sendiri, saya yakin anak saudara tidak akan bertobat.
    Katakan: "Sayang, mama berdoa pada Tuhan, dan mama percaya kamu pasti akan melihat mujizat-Nya. Kamu pasti diubahkan Tuhan. Bila kamu berada dalam keadaan yang paling sukar, datang pada Yesus. Dia akan menerimamu apa adanya dan akan mengerjakan mujizat bagi kamu," Sementara mungkin anak Anda tidak mau mendengarkan, "Ah, mama khotbah terus!” Doa dan kesetiaan adalah menjadi kekuatan/kuasa yang luar biasa. Doa tanpa kesetiaan adalah formalitas atau kepalsuan, kemunafikan belaka.
    Kesetiaan tanpa doa akan menjadi kelemahan; setia tapi tidak doa percuma, lama-lama saudara malas berdoa. Kekuatan datang dari doa. Bagi Tuhan tiada yang mustahil.
  3. Yes 61:8-9 Upah Kita dengan Tepat:
  4. Kita kerja sedikit, upah kita sedikit. Kerja lumayan, upahnya pun lumayan. Bekerja banyak, upahnya juga banyak. Itu namanya adil dan tepat.
    Tidak kerja banyak, berjuang banyak, jangan harap sesuatu yang besar dari Tuhan. Menghadapi masa-masa yang sukar saudara tetap setia, sesuatu yang besar menanti Anda.
    Yusuf difitnah. Sakit hati. Masuk penjara. Dia membayar mahal untuk itu. Tuhan lalu mengangkatnya menjadi perdana menteri;
    Daud dikejar-kejar Saul, mau dibunuh tapi tidak membalas: "Aku tidak akan menjamah orang yang diurapi Tuhan." Tuhan angkat dia jadi raja.
    Tuhan akan memberi kita upah dengan tepat; Tuhan adalah yang terbaik yang menangani adminitrasi hidup kita; Tuhan tahu persis perjuangan kita. Kapan kita dikecewakan, kapan kita difitnah, atau disakiti. Tuhan tahu persis engkau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan; Tuhan perhitungkan semuanya. Saya mau ingatkan untuk hidup setia dan benar.
    Kalau kita setia, anak cucu kita diberkati dan keluarga kita diberkati. Tetapi kalo kita buka celah untuk dosa, anak cucu kita juga akan menghadapi kutuk.
    Mazmur 25:13 "Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi."
    Mazmur 37:25 "Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;"
    Mazmur 112:2 "Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati."
    Sebagai hamba Tuhan saya mau ingatkan: bapak–ibu; jangan berzinah, jangan selingkuh. Jika tidak, maka jangan heran anak-anak saudara akan berhubungan seks di luar nikah, hamil, atau menghamili orang.
    Kalau saudara buka pintu untuk perzinahan, perselingkuhan, percaya fengshui, penyembah berhala, kuasa kegelapan, maka anak saudara menghadapi kutuk itu. Karena keadilan Tuhan dilihat dari sudut berkatnya.
    Maz 103:17 "Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu."
    Kalau saudara masih punya akal sehat, pasti berpikir untuk bertobat. Saudara pasti tidak rela anak-anak Anda hancur. Mari kita setia melakukan kebenaran.
  5. Dan 6:4: Daniel melebihi para pejabat/orang lain. Kenapa? Karena Daniel tidak menajiskan dirinya dengan makanan raja dan minuman yang memabukan dan 1:8. Daniel setia.
  6. Mungkin orang mengejek: iman sih iman, tapi jangan ekstremlah, jangan fanatiklah. Orang gereja tidak boleh merokok, tidak boleh ke pub, tidak boleh karaoke, tidak boleh ke diskotik, tidak mabuk, tidak boleh nonton porno, dan masih banyak lagi.
    Ada seorang yang saya layani. Ia bertanya bahwa Alkitab tidak mencatat tidak boleh merokok, tidak boleh ke diskotik, dll. 1 Kor 10:23 mengatakan ""Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
    Saudaraku, orang tidak akan menyangkal kita berbeda. Kita memiliki sesuatu yang kita miliki yang dunia tidak miliki.
  7. Maz 1:1-3: tidak mendengar nasehat orang fasik mengandung kesetian kepada nasehat orang benar/firman Tuhan. Merenungkan taurat siang dan malam; saudara perhatikan mengandung kesetiaan.
  8. * Orang yang setia, termasuk orang yang melakukan 3 M (merenungkan firman, melakukan firman, membagikan firman).
    * Orang yang setia tetap akan melewati badai; tetapi ia adalah orang yang dikasihi Tuhan. Maz 34:11 "Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik."
KESIMPULAN: Tuhan akan memberi upah tepat seperti apa yang kita lakukan.

Memberikan Pujian

Oleh: Marinus Waruwu
Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy, penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."
Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi saya."
Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.
Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.
Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus.
Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah. Jauh lebih mudah mengritik orang lain.
Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk." "Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya. "Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!"
Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?
Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.
  1. Kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.
    Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.
    Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmat-Nya tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda mengingkari nikmat-Nya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.
  2. Kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!" Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, "Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!"
    Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain. Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.
  3. Paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar dan baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.
Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.
Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.
Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko, maupun petugas di jalan tol.
Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya dengan doa, "Hati-hati di jalan, Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.
Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa dimanusiakan.
Sumber: Indonesia Business Online, Penulis: Arvan Pradiansyah

Dulu Aku Hanya Seorang Pengemis

Kesaksian: Suparno
Dari kolong sebuh jembatan, Suparno dan kelima adiknya dibesarkan. Ia berasal dari keluarga yang turun-temurun bekerja sebagai pengemis. Karena keadaannya Suparno sepertinya tidak memiliki harapan untuk mengubah nasibnya.
Saya turun ke jalanan sejak umur lima tahun. Saya sekolah dari kelas satu SD sampai kelas enam saja. Saya dibiayai dari hasil bapak saya mengemis. Waktu saya kelas satu kelas dua saya punya cita-cita menjadi polisi. Bapak saya pernah bilang: "Kita orang susah, kita orang miskin, jangan neko-nekolah (macam-macam)". Kata-kata semacam itu tertanam dalam pikiran saya. Cita-cita itu musnah dalam hidup saya. Bahkan saya pernah berpikir saya tidak layak di dunia ini.
Bukan sekedar melemahkan semangat, orang tua Suparno juga melakukan kekerasan yang mengerikan pada dirinya. Dari kecil saya tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua saya. Hari-hari saya dipukuli ibu saya. Saat saya sekolah, telat sedikit saya disiram air. Kalau melakukan kesalahan, kaki saya di-tang dan kuku saya dicabut. Dendam dan kepahitan hidup terbentuk dalam batin Suparno. Waktu itu saya hanya punya perasaan dendam dan punya pikiran kalau saya sudah besar dan menjadi "orang", saya pasti balas perlakuan mereka. Saya beranggapan saya sudah tidak punya orang tua lagi. Saya ingin kabur dari rumah.
Perlakuan keras orang tuanya dan realita yang terjadi dalam kehidupannya membuat Suparno merasa inilah takdirnya sebagai orang miskin yang tidak berpengharapan. Semenjak saya putus sekolah saya melakukan pekerjaan mengemis, dan orang tua saya juga mendorong saya untuk melakukannya. Perasaan saya waktu itu hancur, saya kecewa pada mereka. Pernah mereka bilang : "Kamu ganti baju yang jelek aja, muka kamu hitam-hitamin. Muka kamu dibuat untuk belas kasihan. Kamu bikin luka-luka bohongan. Mereka juga berikan saya obat-obatan terlarang untuk saya konsumsi untuk menghilangkan rasa malu saya.
Untuk memancing iba dan belas kasihan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak, Suparno menuruti saran ayahnya agar dia membakar kakinya sendiri. Bapak saya pernah bilang : "No, kaki kamu bakar aja". Terus saya berpikir, benar juga ide itu. Kurang lebih tiga hari kemudian, kaki ini saya bakar dan saya kapuri. Saya minum obat, minum-minuman keras supaya disaat saya kasih kapur dan saya bakar kaki saya, saya tidak merasakan sakit. Walau penghasilan meningkat namun tubuhnya menjadi rusak. Sebelum membakar kaki, penghasilan saya sehari 30-50 ribu rupiah. Setelah membakar kaki penghasilan saya bisa 100-200 ribu. Dan setiap dua bulan sekali saya melakukan hal itu (membakar kaki), itu terus saya lakukan. Suatu saat Suparno berjumpa dengan seseorang yang mengubah paradigma hidup Suparno, Melchior, seorang yang menyadarkan Suparno bahwa ia adalah umat yang memiliki harkat dan berharga di mata Tuhan.
Waktu saya tinggal di kolong jembatan, ada satu pribadi yang mau peduli dengan saya. Kak Melchior setiap hari selalu menasehati saya. Dia juga setiap hari mencukupi kebutuhan saya. Dia tinggal di kolong jembatan selama tiga bulan. Dia bekerja menarik gerobak dan menjadi pemulung. Itu membuat saya bertanya: "Siapa sih ini orang?". Waktu datang, dia menyadarkan saya dengan mengatakan: "No, kamu sadar nggak sih, kamu ini orang sehat?. Kamu ini orang yang tidak cacat, apa kamu mau bekerja seperti ini selamanya?." Sampai suatu hari dia bilang : "No, kamu tinggal dengan saya aja di rumah singgah".
Dua hari saya dengan dia, dia mengajari saya menarik gerobak, ternyata ini pekerjaan yang berat. Disitu timbul lagi pikiran yang negatif dalam hidup saya : "Buat apa sih saya harus menarik gerobak seperti ini?, harus mengeluarkan keringat segala macam?. Penghasilan saya mengemis juga lebih besar kok!?". Itu yang menguatkan saya untuk keluar dari rumah singgah.
Satu hari kemudian, dia datang lagi ke kolong dan berkata: "Suparno, kamu diciptakan bukan untuk menjadi pengemis tapi untuk menjadi orang yang sukses dalam Tuhan!". Saya nggak mengerti waktu itu, Tuhan itu apa sih?!. Tuhan itu seperti apa? Makanan apa Tuhan itu?. Beberapa pertanyaan menghujani pikiran Suparno. Siapakah pribadi Tuhan yang dimaksud?. Pertanyaan ini telah mengarahkan Suparno kembali ke rumah singgah.
Setelah itu saya kembali lagi ke rumah singgah. Saya diajari lagi bekerja. Saya taat dengan kembali memulung setiap hari. Saya mengambil barang-barang bekas untuk dijual kembali, kak Melchior juga setiap hari menguatkan saya : "Kalau kamu mau, kamu tidak akan pernah menjadi seorang pemulung terus karena Tuhan juga tidak menciptakan hanya pemulung". Sampai-sampai suatu saat kak Melchior memanggil saya dan mengatakan: "Mulai besok kamu tidak perlu menjadi pemulung lagi, kamu yang jadi penjaga lapak. Kamu yang bertanggung jawab, semua orang yang ada di tempat ini jualnya ke kamu".
Dari kepercayaan yang kecil yang dipercayakan kepadanya, semua dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Suparno mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar menjadi kepala lapak, sopir mobil bahkan mengelola mobil angkutan kota yang menjadi miliknya sendiri. Kak Melchior bilang: "No, kamu bisa nyopir nggak?". Saya bilang bisa. "Kamu mau nggak kakak beliin mobil?, uang mukanya kakak kasih dan angsurannya kamu usahain sendiri?". Itu sangat berat buat saya karena saya takut, saya takut karena angsuran bulanannya nggak sedikit, sangat besar buat saya, 4,5 juta dan uang mukanya 30 juta. Andaikata saya tidak bayar angsuran maka uang muka akan hilang dan mobil juga akan hilang. Tapi saya bertekad untuk membayar uang mukanya dari kak Milchior yang 30 juta dalam satu tahun.
Dengan ketekunan dan semangat kerja yang tinggi, bertanggung jawab, jujur dan dapat dipercaya, menjadi karakter yang melekat dalam diri Suparno. Itu semua adalah karakter Tuhan yang memampukan dia lepas dari kehidupan jalanan yang tiada berpengharapan menjadi hidup yang penuh harapan.
Ahmad Yani, adik Suparno bersaksi atar perubahan hidup kakaknya. Saya mau mengikut abang saya itu karena saya melihat perubahan. Dulunya ia orangnya jahat. Kerja di jalanan setahu saya mana mungkin bisa berubah. Tapi sekarang mas Parno memotivasi saya untuk mau belajar, mas Parno sekarang mau memasukkan saya ke angkatan darat.
Sedikit demi sedikit Suparno belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Kak Melchior selalu menenamkan dalam diri saya: "Parno jangan pernah minder, kamu jangan pernah menyerah karena Tuhan Yesus selalu bersama kamu, karena Tuhan Yesus selalu ada di dalam diri kamu. Karena Tuhan Yesus selalu mengasihi kamu. Kamu jangan pernah menyerah dalam segala hal, apapun itu. Jangan pernah kalah dengan keadaan."
Suparno telah berubah dan kini ia dapat melihat siapa Tuhan itu. Di dalam Yesus ada kebahagiaan karena didalam Yesus itu ada kasih. Saya baru pertama kali itu merasakan kasih yang begitu luar biasa yang selama ini belum pernah saya rasakan. Saya bersyukur pada Tuhan karena Tuhanlah yang mengubah hidup saya. Tuhan menjadikan saya memiliki pengharapan, yang tadinya saya tidak punya pengharapan, Tuhan memberikan pengharapan itu pada diri saya. Saya sangat bangga dan bersyukur pada Tuhan.
Saya bahkan mau menyerahkan hidup saya pada Dia, firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. (Yesaya 43:18-19)
JAWABAN.com.

Mengapa Aku Menangis? Mengapa Aku Tertawa?

Oleh: Sion Antonius
Kami menonton sebuah film yang temanya sangat jarang diungkapkan, yaitu mengenai orang-orang yang ditugaskan untuk menyampaikan pesan. Menariknya dalam film tersebut, pesan yang harus disampaikan adalah pesan dukacita. Orang-orang ini harus menyampaikan kabar kepada para keluarga perihal kematian orang-orang yang dikasihinya.
Cerita film adalah mengenai tentara Amerika yang mendapatkan tugas pada bagian penyampai kabar untuk keluarga yang anggota keluarganya meninggal dalam tugas militer. Kematian mereka bisa karena pertempuran ataupun kecelakaan dalam tugas, dan untuk hal tersebut perlu petugas khusus sebagai penyampai resmi dari kemiliteran.
Dalam film tersebut terpilih seorang sersan dan seorang kapten. Sebagai kapten, maka dia bertindak menjadi atasannya. Sebelum memulai tugas si kapten memberikan wejangan sekaligus sebagai aturan, yaitu pada intinya mereka tidak boleh melibatkan sisi emosional (keharuan, kesedihan dan semacamnya) dirinya dengan para keluarga yang berduka. Mereka hanya menyampaikan berita dengan tegas dan dingin, apabila berita sudah disampaikan maka selesailah tugasnya.
Pada awalnya si sersan bisa mengikuti aturan tersebut namun perlahan tapi pasti, sisi emosional dari si sersan mulai tidak bisa berkompromi. Secara kejiwaan malah dia mengalami tekanan mental, mulai merasa bersalah karena tidak bisa menunjukkan simpati dan empati kepada orang-orang yang sedang berduka cita. Puncaknya, dia berani melawan perintah si kapten dengan cara menunjukkan sikap simpati pada saat harus menyampaikan sebuah kabar dukacita. Dia mendapat hinaan dan marah dari si kapten, dianggap sebagai orang yang lemah. Namun dia tidak bergeming, malah merasa persoalan mentalnya justru menjadi dapat terselesaikan, dengan pembangkangan tersebut.
Manusia didorong untuk bisa menyalurkan sikap emosional secara wajar. Manusia diharapkan bisa menangis dengan orang yang menangis dan tertawa dengan orang yang tertawa. Tujuannya adalah supaya secara sosial manusia itu bisa menempatkan dirinya sedemikian rupa dalam hubungan antar sesama. Ketika manusia itu tidak mau merasakan perasaan orang lain dalam hubungan sosialnya, maka lambat laun orang tersebut akan menghadapi masalah dengan dirinya sendiri.
Jadi ada saatnya kita memang harus bisa bergembira dalam kegembiraan yang orang lain dapatkan, dan juga bisa ikut merasakan kesedihan tatkala orang lain mengalami suatu kedukaan. Sikap ini bukan untuk kepentingan orang lain, tetapi justru akan sangat membantu kesehatan jiwa kita.
Marilah kita memiliki jiwa yang sehat, dengan menjadi orang yang bisa bersimpati dan berempati kepada orang lain dengan tulus dan jujur.

Kasih Seorang Ibu

Oleh: Sidiq Prasetyo
Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia memunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya.
Di samping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu memunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahakannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya. Selain aib yang harus ditanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemoohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapa.
Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love -- Kasih. Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan di waktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yang ia bisa dapatkan.
Terkadang ia harus menjahit sampai pukul 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu dan Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restoran. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya. Di samping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.
Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan makanan.
Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di luar sangat dingin sekali, karena pada saat itu sedang musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupi. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca di luar dingin sekali, bahkan dalam keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja.
Sejak saat itu ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dalam keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yang tercinta.
Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya di luar kota. Di sana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih memunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan memunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restoran. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.
Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidak diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah memunyai seorang cucu.
Ia sangat mendambakan untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya. Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja di sana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai bibi pembantu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa permohonannya telah dikabulkan.
Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dalam kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.
Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya di rumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo. Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pensiun yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.
Pada tahun lampau beberapa hari sebelum Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.
Suhu di luar telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salju pun turun dengan lebatnya. Jangankan manusia, anjing pun pada saat ini tidak mau ke luar rumah lagi, karena di luar sangat dingin, tetapi nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dalam keadaan sakit.
Setiba di rumah putrinya dalam keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata putrinya sendiri yang membukakan pintu rumah. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor: "Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!"
"Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luar dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi, Nak!" kata wanita tua itu. "Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!" ucap putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis. Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihan pun tidak ada.
Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya "Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelepon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!" Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.
Ibu saya tidak melek komputer, bahkan beliau seorang wanita yang buta aksara, tetapi untuk Mang Ucup pribadi beliau adalah wanita yang paling hebat, di mana sampai dengan detik ini Mang Ucup masih bisa belajar dari padanya. Belajar memberikan dan membagikan kasih tanpa pamrih dan tanpa lagas. Ibunya Mang Ucup menderita sakit kanker, tetapi ia tidak pernah mengeluh. Tiap kali saya menelpon Ibu, pertanyaan standar selalu diajukan kepada saya: "Apa yang Ibu bisa bantu untukmu, Nak?" Ia tidak memohon untuk dirinya sendiri dalam doanya, yang ia utamakan selalu hanyalah kami anak-anaknya! Ia selalu mendoakan kami siang dan malam.
Maka dari itulah untuk Mang Ucup, Ibu saya adalah wanita yang tercantik sejagat raya, melebihi daripada Michael Preifer walaupun ia barusan saja terpilih oleh majalah People sebagai wanita tercantik sedunia tahun 1999. Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga.
Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dalam setahun.
Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja sedangkan di hari-hari lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu. Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah.
Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita? Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.
"When Mother prayed, she found sweet rest, When Mother prayed, her soul was blest; Her heart and mind on Christ were stayed, And God was there when Mother prayed!"
"Our thanks, O God, for mothers Who show, by word and deed, Commitment to Thy will and plan And Thy commandments heed."
"A thousand men may build a city, but it takes a mother to make a home."
Apabila Anda mengasihi Ibunda Anda sebarkanlah tulisan ini kepada rekan-rekan lainnya, agar mereka juga sadar selama Ibunda mereka masih hidup berikanlah bakti kasih Anda kepada Ibunda terkasih sebelumnya terlambat.
Cerita: Mang Ucup

Permasalahan Lanjut Usia (Lansia)

Pengertian lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat mengenai “usia kemunduran” yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi.
Masalah kesehatan mental pada lansia dapat berasal dari 4 aspek yaitu fisik, psikologik, sosial dan ekonomi. Masalah tersebut dapat berupa emosi labil, mudah tersinggung, gampang merasa dilecehkan, kecewa, tidak bahagia, perasaan kehilangan, dan tidak berguna. Lansia dengan problem tersebut menjadi rentan mengalami gangguan psikiatrik seperti depresi, ansietas (kecemasan), psikosis (kegilaan) atau kecanduan obat. Pada umumnya masalah kesehatan mental lansia adalah masalah penyesuaian. Penyesuaian tersebut karena adanya perubahan dari keadaan sebelumnya (fisik masih kuat, bekerja dan berpenghasilan) menjadi kemunduran.
Lansia juga identik dengan menurunnya daya tahan tubuh dan mengalami berbagai macam penyakit. Lansia akan memerlukan obat yang jumlah atau macamnya tergantung dari penyakit yang diderita. Semakin banyak penyakit pada lansia, semakin banyak jenis obat yang diperlukan. Banyaknya jenis obat akan menimbulkan masalah antara lain kemungkinan memerlukan ketaatan atau menimbulkan kebingungan dalam menggunakan atau cara minum obat. Disamping itu dapat meningkatkan resiko efek samping obat atau interaksi obat.
Pemberian nutrisi yang baik dan cukup sangat diperlukan lansia. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa lansia memerlukan nutrisi yang adekuat untuk mendukung dan mempertahankan kesehatan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi antara lain: berkurangnya kemampuan mencerna makanan, berkurangnya cita rasa, dan faktor penyerapan makanan.
Dengan adanya penurunan kesehatan dan keterbatasan fisik maka diperlukan perawatan sehari-hari yang cukup. Perawatan tersebut dimaksudkan agar lansia mampu mandiri atau mendapat bantuan yang minimal. Perawatan yang diberikan berupa kebersihan perorangan seperti kebersihan gigi dan mulut, kebersihan kulit dan badan serta rambut. Selain itu pemberian informasi pelayanan kesehatan yang memadai juga sangat diperlukan bagi lansia agar dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
Sumber: http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/326-permasalahan-lanjut-usia-lansia.html

Metamorfosis

Oleh: Agung
"Berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna." (Roma 12:2)
Bacaan: Roma 12:1-8
Proses metamorfosa yang mengubah ulat menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu, sungguh suatu perubahan yang mengagumkan. Dari arti katanya, metamorfosa berarti bentuk yang berubah. Namun, yang terjadi pada kupu-kupu bukan hanya perubahan bentuk, tetapi juga gaya hidup. Ulat merangkak, kupu terbang. Ulat makan daun, kupu mengisap madu. Ulat tampak rakus, kupu tampak anggun. Ulat bergerak lambat, kupu terbang cepat. Sungguh berubah total!
Kata "metamorfosa" itu pulalah yang dipakai Paulus ketika menulis: "Berubahlah oleh pembaruan budimu ...". Paulus ingin jemaat di Roma benar-benar berubah, seperti perubahan yang dialami ulat hingga menjadi kupu-kupu. Gaya hidup, cara pAndang, dan cara jemaat menjalani hidup mesti berubah, sehingga mereka "dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna". Ya, reformasi sejati tidak hanya mengubah forma (bentuk), tetapi juga mengubah apa yang ada di dalam hidup seseorang.
Hidup kita perlu terus mengalami reformasi. Harus terus bergerak dari ulat ke kepompong. Jadi tidak hanya diam, tetapi seperti pesan Paulus, kita perlu terus mempersembahkan diri sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (ayat 1). Artinya, kita selalu menyadari—dan kemudian membuktikannya pada dunia—bahwa atas kemurahan Allah dan kasih karunia-Nya, hidup kita ini adalah milik Allah.
Mari terus berubah agar semakin matang di dalam Tuhan. Hingga pada saatnya kelak, kita sungguh berubah menjadi indah dan memberkati setiap orang yang melihatnya.

Kompas Hidup (Ibrani 12:2)

Oleh: Suardin Gaurifa
"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan..."
Pernahkah saudara bertanya, mengapa kapal yang berlayar di kegelapan pun bisa sampai ke tujuannya dengan tepat? Mengapa pesawat yang apabila sudah mengudara hingga melampaui awan-awan dan daratan tak kelihatan setitik pun dapat sampai ke kota yang dituju dengan tepat? Itu bukan karena ada kacamata yang tembus pAndang hingga kiloan meter, atau ada malaikat pengawal perjalananya. Tetapi hanya oleh karena satu alat yang tidak terlalu besar yang namanya kompas dan radar bagi pesawat. Tanpa kompas dalam sebuah kapal sama dengan kegelapan yang paling gelap, sebab akan terombang-ambing oleh gelombang tanpa arah yang jelas dan tanpa radar bagi sebuah pesawat sama dengan kesesatan.
Setiap manusia yang lahir di dunia ini bukan karena kebetulan. Ada tujuan dibalik kehadirannya di permukaan bumi ini. Allah punya tujuan yang unik dan khusus bagi setiap kita dan tujuan itu adalah untuk mempermuliakan Dia, Yesaya menulis demikian “Semua orang yang disebutkan dalam nama-Ku yang kuciptakan untuk kemuliaan-Ku yang ku bentuk dan juga kujadikan.”(Yes. 43:7).
Namun hidup dalam memuliakan Tuhan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai tantangan awan dan kegelapan kehidupan menguji kesetiaan kita untuk tetap ada dalam koridor yang benar sesuai keinginan Tuhan. Tetapi jangan pernah putus asa dan mundur dari perlombaan hidup yang sedang dijalani sebab Yesus sudah memberi teladan yang baik dengan kesetiaan-Nya menjalani penderitaan sampai akhir tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini. Jadikan Kristus sebagai kompas hidupmu supaya sampai pada tujuan yang Allah kehendaki dalam hidupmu. Biar badai kesulitan, amukkan penderitaan, medan persoalan, hujan krisis, terpaan penyakit, silih berganti jangan pernah berpaling tetapi tetap melangkah sesuai kompas hidup kita, jalani dengan mata yang tertuju kepada Yesus.

Sebuah Perenungan

Oleh: Ev.sudiana
Rumah yang paling indah adalah yang di dalamnya ada cinta
Makanan yang paling lezat adalah yang disantap dengan hati bersyukur
Penyembahan paling tinggi adalah dengan segala kesungguhan dan ketulusan
Kesuksesan sejati adalah ketika kita memunyai karakter Kristus
Pencerahan sejati adalah ketika kita mampu berkata: "Semua kuanggap sampah, karena pengenalanku akan Kristus."
Orang paling kaya adalah ketika kita selalu berdoa: "Tuhan Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya."
Kemiskinan yang paling miskin adalah ketika kita tidak sanggup memberika sebuah pujian pada orang lain
Pelayanan yang paling murni adalah ketika kita memberikan lebih dari apa yang kita dapatkan
Hamba Tuhan sejati adalah mereka yang mampu berkata: "Kami hanya melakukan apa yang Tuhan suruh kami lakukan."
Penghargaan sejati adalah ketika Tuhan Yesus berkata "ENGKAU HAMBAKU YANG BAIK."

Joice dan TUHAN

Oleh: Krisetiawan
Joice, anak kami, sudah mulai bisa berjalan sendiri. Sebelumnya harus dipegang tangannya atau dititah. Sebelum itu cuma bisa merangkak. Sebelum bisa merangkak, tidak bisa kemana-mana kecuali digendong. Sebelumnya hanya bisa menangis, sekarang sudah bisa bilang, "papa, mama, matematika" (ups...kalau yang ini belum). Saya dan istri sangat senang melihat pertumbuhan Joice. Saya membayangkan, demikian juga dengan TUHAN. TUHAN pasti senang melihat pertumbuhan kita, anak-anak-Nya. Dulu kita nggak bisa berjalan "dengan benar", sekarang bisa berjalan dalam terang firman-Nya. Dulu suka gosip, sekarang suka mendoakan orang. Seperti saya senang melihat pertumbuhan Joice, TUHAN juga pasti senang melihat pertumbuhan rohani anak-anak-Nya.
Joice, anak kami, juga sudah bisa membuka pintu sendiri. Sebenarnya bukan dia, tapi saya. Saya gendong dia sambil berkata: ayo pintunya dibuka. Tangannya yang mungil segera meraih pintu yang tertutup. Diam-diam, tangan saya memegang handle pintu dan membukanya pelan-pelan, lalu kaki saya membuka pintu itu lebih lebar. Joice tetap dengan tangan yang memegang pintu. Setelah pintu terbuka, Joice tampak senang. Apalagi ketika saya bilang: Wah, pinter, sudah bisa membuka pintu. Joice pun tersenyum manis. Saya membayangkan TUHAN, Bapa kita. Ada banyak hal yang Dia lakukan untuk kita, tapi sering kali kita merasa kitalah yang melakukannya. Ada persoalan berat, TUHAN selesaikan, kita merasa kitalah yang menyelesaikan. Ada pekerjaan berat, tugas berat, kita berhasil melakukan dengan baik, kadang kita lupa, TUHAN "diam-diam" melakukannya untuk kita.
Joice, anak kami, suka main air. Sesudah mandi, biasanya sulit sekali diajak keluar dari tempat dia berendam. Kalau sudah begitu, saya terpaksa menggendong dia dan membawanya keluar dari air, walaupun dia menangis. Dia menangis dengan keras, saya tidak peduli. Pikirnya, mungkin, "Papaku tidak sayang aku, tidak senang melihat aku senang." Saya tidak mau membiarkan Joice berlama-lama di dalam air supaya tidak masuk angin. Saya membayangkan TUHAN juga demikian. Sering kali TUHAN "menarik" kita dari kenikmatan hidup (baca: dosa) agar kita tidak celaka. Kita terkadang sulit memahami apa yang TUHAN lakukan seperti Joice yang masih sulit memahami apa yang saya lakukan. Tapi percayalah, TUHAN melakukan kebaikan dan kebaikan dan kebaikan dan kebaikan untuk kita. Tidak ada hal jahat yang TUHAN lakukan untuk kita. Sekalipun, kita sulit memahaminya.
Joice, anak kami, pernah sakit. Dari mulai sakit mata, batuk, pilek, gatal di kulit, dsb. Sebagai seorang ayah saya merasa kasihan. Terkadang saya berpikir, kalau memungkinkan biarlah saya saja yang menanggung sakit Joice. Saya tidak tega. Tiba-tiba saya teringat Bapa saya, TUHAN. Bukankah firmanNya berkata: sesungguhnya penyakitmulah yang AKU tanggung, dan kesengsaraanmu yang AKU pikul. TUHAN, Bapa kita, juga tidak tega melihat kita sakit. DIA ingin menanggung setiap sakit penyakit kita. Dan DIA sedah melakukan itu di atas kayu salib. Luar biasa!! Sakit jasmani dan sakit rohani (dosa) kita, ditanggung-Nya di atas kayu salib. Ini bukan karena kebaikan kita. Bukan karena kita layak mendapatkannya. Bukan karena kita lebih baik daripada orang lain. Tapi semata-mata karena anugerahNYA.
Joice, anak kami, membuat saya belajar hati Bapa, TUHAN kita.
Semoga memberkati. Amin.

Refleksi Teladan Kepemimpinan

Oleh: Maryono
Gembala: Pemimpin yang melayani
Kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah kita telah menjalankan tugas pengembalaan dengan baik.
Tulisan ini adalah sebuah Refleksi dari pertanyaan tersebut diatas yakni bentuk penggembalaan atau pelayanan sebagai tugas dari Pendeta, Penatua, Diaken. Banyak kriteria dan ciri-ciri pelayanan yang berkenan di hadapan Allah berdasarkan Alkitab, antara lain:
Pertama, melayani dengan kerelaan artinya tanpa imbalan atau keinginan memperoleh jasa dan atas kemauan sendiri mengambil bagian dalam pelayanan. Seperti jemaat di Makedonia dengan kerelaan sendiri meminta dan mendesak agar beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus (2 Korintus 8:4) ;
Kedua, melayani dengan kesetiaan artinya menempatkan diri kita sebagai hamba (budak) yang harus pasrah terhadap perintah Tuannya, Yesus Kristus. Pelayan sebagai hamba yang selalu mencari kesukaan Tuannya bukan kesukaan manusia. Kata Paulus: Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus (Galatia 1:10).
Ketiga, melayani dengan ketaatan dan kepatuhan artinya segala pikiran yang menyerah dan tunduk kepada kuasa Allah, karena Allah memerintahkannya. Bahkan bila kita menghadapi pergumulan sehari-hari terhadap kehidupan sosial: Kita harus taat kepada Allah daripada kepada manusia (Kisah Rasul 5:29). Demikian pula Kristus dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8).
Keempat, melayani dengan ketekunan artinya melakukan pekerjaan lebih penting dari pada status jabatan (misal penatua di Gereja) dan melaksanakan tugas bukanlah semangat yang sebentar, suam-suam kuku. Melayani Dia siang dan malam di Bait Suci-Nya (Wahyu 7:15),
Kelima, melayani dengan tulus dan rendah hati artinya pelayanan yang bersumber dari respon dan perasaan terima kasih atas anugerah yang diterima dari Allah. Sebab segala sesuatu dari Dia, kata Paulus : supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1).
Keenam, melayani dengan sukacita, suatu ungkapan lahiriah yang bergairah dan semangat seperti Jemaat di Makedonia walaupun dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan (2 Korintus 8:2).
Ketujuh, melayani dengan dedikasi yang bermakna tidak terpengaruh dengan besar kecilnya bentuk pelayanan yang dilakukan, apakah melayani di kolong jembatan atau di tempat-tempat yang mewah. Paulus berkata: sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri (Galatia 6: 3). Pesannya adalah jangan menganggap reputasi jabatan, status sosial kita terlalu tinggi untuk melayani saudara kita yang miskin, lemah dan tak berdaya, sebenarnya kita bukan apa-apa di hadapan Allah.
Kriteria itu semua, seharusnya stAndar jawaban pertanyaan dalam topik tulisan ini, yang menyuarakan tidak hanya suara hati tetapi juga nilai-nilai tertentu dalam kehidupan pribadi gembala atau pemimpin di lingkungannya, sehingga gembala atau pemimpin dapat diterima dan dipercaya jemaat atau pengikutnya. Kriteria itu menuntut Self Denial, penyangkalan diri, Hal inilah yang dituntut Yesus: setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Markus 8:34). Pengikut Yesus memberikan dirinya bukan untuk suatu imbalan, tetapi “memberi” karena itu kebenaran yang harus dilakukan. Dan inilah yang membedakan Pemimpin rohani dan pemimpin sekuler atau pemimpin sebagai panggilan atau pemimpin sebagai profesi.
Pertanyaannya, bagaimana jemaat dapat mengetahui bahwa pemimpin atau gembalanya (Pendeta, Penatua, Diaken) telah melakukan nilai-nilai tersebut di atas? Sederhana, ya, sederhana. Orang melihat, mengamati dan menilai sikap. Jemaat melihat dan menilai seorang gembala harus memunyai standar moral yang tinggi. Kalau Anda menyanyi: gembala juga manusia! Ya, benar, manusia yang memunyai standar moral lebih tinggi dari pengikutnya bahkan orang kebanyakan umumnya. Hal ini adalah nilai-nilai yang dianut oleh jemat bagi pemimpin rohani mereka. Penulis Ibrani mengingatkan: Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka (Ibr. 13: 7 ).
Memang, Alkitab penuh dengan kata hikmat sebagai petunjuk kehidupan ataupun penggembalaan. Tetapi hanya membaca dan mengajarkan Alkitab dengan suara keras, bersemangat, berapi-api bagaikan orator ulung tidak akan membuat seorang layak menjadi gembala. Kata-kata atau pesan tidaklah cukup, karena satu hal penting yang berpengaruh terhadap pengikut atau warga jemaat adalah pemberian teladan yang menyejajarkan tindakan pribadi sesuai dengan Firman Tuhan yang diajarkannya. Ya, Jemaat atau pengikut mendengarkan pesan dalam khotbah, ceramah, atau nasehat dari gembalanya, tetapi mereka juga mengikuti jejak kaki (keteladanan) gembalanya. Oleh karena itu, hikmat dalam Kumpulan amsal-amsal Salomo mengingatkan: Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya (Ams 10:9a).
Pelajaran apa yang dapat dipetik, apabila berkomitmen menjadi pelayan Tuhan seperti gembala atau pendeta atau majelis:
1. Kehidupan mereka adalah cermin yang memantulkan prinsip-prinsip ajaran Tuhan yang ingin diikuti pengikut atau jemaatnya.
2. Seorang yang “terpanggil” menjadi pelayan Tuhan harus bertanya: Siapa sebenarnya yang dilayani dan apakah siap menderita! Ini menuntut ketekunan, kerendahan hati dan resiko.
3. Akhirnya, apabila kita berkomitmen menjadi Pelayan, antara lain dapat direnungkan :
Apakah kita konsisten antara tindakan dan ajaran Firman Tuhan sebagai petunjuk kehidupan orang percaya ? karena fungsi sebagai “panutan”, Jangan mengajarkan sesuatu yang tidak Anda miliki.
Bagaimana cara menghabiskan waktu kita sehari-hari dalam pelayanan? Artinya apabila waktu kita masih terlalu sibuk dengan lebih mementingkan pribadi, pekerjaan, atau seorang Majelis ternyata lebih banyak dirumah menonton TV dari pada kunjungan ke warga, mungkin perlu direnungkan keterlibatan kita dalam pelayanan.
John Maxwell dalam bukunya The 21 Irrefitable Laws of Leadership memberitahu kita untuk: “Memproses diri sendiri lebih dulu sebelum memproses orang lain". Oleh karena faktanya, lebih mudah mengajarkan apa yang benar dibanding melakukan apa yang benar
Selamat Melayani.

Kesaksianku

Oleh: Yohana Cahyadi
Nama saya Yohana Cahyadi. Melalui kesempatan ini saya ingin memberikan kesaksian hidup dari mama saya. Saya anak pertama dari 4 bersaudara. Saya lahir dari seorang mama yang mengasihi Tuhan. Dari kecil saya sudah dididik untuk mengasihi dan melayani Tuhan. Mama pun juga adalah seorang yang melayani Tuhan dalam gereja.
Kejadian ini bermula pada tanggal 3 Juli 2010, di mana mama divonis dokter mengidap kanker usus stadium 4 dan sudah menyebar ke bagian paru-paru, rahim dan bagian lainnya. Keadaan demikian membuat mama dan keluarga kehilangan semangat. Saya bertanya pada Tuhan kenapa mama seorang yang mengasihi dan melayani Tuhan bisa mengalami hal yang demikian. Namun di tengah kondisi yang demikian kami tetap datang pada Tuhan.
Pada saat itu mama mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah salah, rancangan-Nya adalah yang terbaik. Kata-kata itulah yang membuat saya sekeluarga kembali dikuatkan. Setelah divonis demikian akhirnya pihak keluarga sepakat agar mama mengambil langkah kemotherapy. Pada masa kemo saya dapat melihat bahwa Tuhan yang saya miliki adalah Tuhan yang setia yang menyediakan semua keperluan mama untuk pengobatan. Kami sekeluarga bukan keluarga yang kaya, namun untuk keperluan pengobatan mama selalu aja tercukupi tepat pada waktunya.
Pada saat itu keluarga mulai melihat sedikit pengharapan supaya mama dapat sembuh. Namun setelah kemo yang ketiga ditemukan tumor besar pada bagian otak belakang mama. Tumor ini menjepit syaraf otak sehingga mama merasakan sakit di kepala seperti ditusuk jarum. Saya baru pertama kali melihat mama menangis karena menahan sakit. Saat itu mama menangis karena tidak kuat menahan sakit demikian, namun saat kondisi demikian mama tetap memanggil Tuhan Yesus. Dalam kondisi demikian tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mama yang menyalahkan Tuhan. Mama selalu berkata jalan Tuhan itu benar. Ada sebuah nyanyian berkata, "Sandar Yesus, mesra, nyaman, alami kuasa darah; iman sederhana saja, semua sakit sirnalah." Mama mengalami pujian ini. Setiap ada saudara/saudari menjenguk, mama malah menghibur dan menguatkan saudara/saudari melalui doanya.
Hari demi hari dilewati mama dengan terus bersandar pada Tuhan. Banyak kenalan yang tidak percaya ketika diberitahu kondisi mama yang kanker stadium 4 karena memang badan mama tidak terlihat seperti orang yang memiliki sakit yang mengerikan itu. Hanya saja memang mukanya terlihat pucat. Satu hari sebelum mama meninggal, mama masih sempat mendorong anak rohaninya untuk tetap setia mengikut Tuhan. Bahkan di saat terakhirnya mama menyanyikan sebuah lagu yang berkata, "Aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap hatiku." Saudara/saudari inilah Tuhan yang kita miliki di dalam kita. Meskipun kita berada dalam situasi sulit asalkan kita datang kepada-Nya, belajar bersandar pada-Nya, Tuhan bisa kita alami secara riil. Banyak pelajaran rohani yang mama ajarkan kepada saya selama ia sakit. Satu hal yang paling berharga yang dia ajarkan kepada anak-anaknya adalah imannya. Saya sungguh bersyukur atas kesaksian hidup seorang mama yang Tuhan berikan untuk saya.

Kayu yang Kasar

Oleh: Ev. Sudiana
Bernoda darah langkah kaki-Nya
Berjalan mengarah ke salib
Menanggung derita
Korbankan nyawa-Nya...
Karena penolakan manusia
Bapa berpaling dari-Nya
Dinobatkan sebagai Raja
Ditinggalkannya sendirian
Terputus dari Bapa
Terluka oleh manusia
Tubuh-Nya terbujur kaku
Tergantung di kayu yang kasar
Tubuh kaku terbungkus kain linen
Dibungkus dengan penuh kasih;
Bergerak selama tiga hari,
Terbaring dimakamkan di sana.
Dia BANGKIT dari kuburan-Nya
Yang dijaga dengan ketat
Sekarang ditaklukkan selamanya
Kematian tidak berkuasa mencengkeramnya ...
Kemuliaan mengalir dari Surga,
Menerangi dunia yang gelap
KAYU KASAR membuktikan Yesus hidup!
Paskah dimulai!
Efesus 2:4

Waktu

Oleh: Sulistijo
Waktu, Siapakah Engkau ?
Aku serasa mengenalmu tapi tak pernah melihatmu.
Sang Nabi berkata di kitab Kejadian 1:14; demikianlah firman Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun.
Waktu, apakah engkau hanya catatan hari berganti hari dan tahun berganti tahun?
Bukankah setiap bangsa telah mencatat hari-hari, bulan-bulan dan tahun-tahun mereka. Dan setiap tahun mereka merayakan pergantian tahun.
Aku pun telah mencatat hari lahirku dan pada waktu aku meninggal nanti seseorang akan mencatat hari kematian di batu nisanku.
Waktu, engkau serasa ada tetapi manusia hanya mampu mencatat hari-hari, bulan-bulan, tahun-tahun dari benda-benda langit yang diciptakan Allah.
Waktu milik siapakah engkau?
Ketika aku berkata “waktuku”, apakah benar engkau milikku ?
Aku dapat memberikan uang dan harta bendaku tetapi aku tidak dapat memberikan waktuku kepada orang lain.
Ketika aku melihat orang yang sudah tidak dapat menghitung waktu ternyata aku masih dapat menghitung waktu.
Demikian juga ketika aku dan kamu sudah tidak dapat menghitung waktu tetapi orang lain masih dapat menghitung waktu.
Waktu ternyata engkau tetap ada baik ketika aku ada maupun ketika aku tiada.
Waktu, ternyata engkau bukan milikku tetapi milik Penciptamu.
Waktu, engkau hanya dipinjamkan oleh Pencipta mu kepada setiap orang, tanpa tahu berapa lama engkau dipinjamkan.
Ketika fajar menyingsing, manusia bergegas ke sekolah, kuliah, bekerja, kemudian makan siang, makan malam dan ketika matahari tenggelam mereka beristirahat.
Waktu, engkau bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Waktu, engkau sangat berkuasa sehingga mampu membelenggu setiap orang, dan mengatur seluruh kehidupan dan kegiatan manusia.
Waktu, engkau adalah gambar dari seluruh kegiatan, perbuatan, ingatan akan hari-hari yang indah, maupun hari-hari yang menyedihkan.
Waktu, setiap orang harus tunduk kepadamu,dan sesungguhnya, Pencipta mu Maha Besar dan berkuasa atas kehidupan manusia.
Hamba bersyukur untuk waktu yang dipinjamkan dan hamba berserah mengikuti waktu yang Engkau ciptakan.
Bimbing hambamu agar mengerti kehendakMu sehingga perbuatan yang merupakan gambar dari waktu dapat berkenan kepadaMu.
Seperti sang Nabi memohon di Mazmur 90 :12: Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Diambil dari: www.secercahcahaya.com

Berbuat Baik

Oleh: Yoseph Heriyanto
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." Efesus 2:10
Sering kita mendengar pernyataan bahwa perbuatan baik itu belum tentu dibalas dengan kebaikan pula. Pertanyaannya adalah apakah lantas kita memilih untuk tidak berbuat baik kepada orang lain? Tentu jawabannya adalah tidak.
Perbuatan baik adalah kewajiban bagi semua orang tanpa harus mempertimbangkan alasannya apa, kalau berbuat baik itu memiliki alasan tertentu berarti perbuatan baik yang kita lalukan tersebut bukanlah perbuatan yang tulus. Jika perbuatan baik itu diikuti dengan “pamrih”, maka perbuatan baik itu bukanlah tindakan yang utuh.
Seperti kata pepatah di atas, ketika kita akan melakukan perbuatan yang baik kepada orang lain tetapi di sertai dengan pemikiran bahwa apakah nanti kebaikan saya juga akan mendapatkan balasan yang baik? Apakah ada keuntungannya buat saya ketika saya melakukan kebaikan bagi orang lain? dan apakah orang lain tersebut mau menerima kebaikan saya? Jika kita berpikir demikian, maka selamanya kita tidak bisa melakukan hal yang baik kepada orang lain.
Melalui Efesus 2:10 kita diingatkan kembali bahwa kita diselamatkan Tuhan bukan untuk menjadi orang yang pasif, melainkan kita dituntut untuk menjadi orang yang aktif. Aktif dalam hal apa? Aktif dalam hal melakukan pekerjaan baik. Melakukan perbuatan yang baik kepada orang lain adalah perwujudan iman yang aktif seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.
Yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana dengan tindakan kita di dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang yang sudah diselamatkan Tuhan?
Sudahkah kita melakukan tindakan atau perbuatan yang baik? Ataukah sebaliknya, kita seringkali menjadi batu sandungan dan tidak menjadi berkat bagi orang lain.
Marilah kita senantiasa melakukan perbuatan yang baik bagi kehidupan orang lain dengan terus mengingat bahwa Tuhan telah terlebih dahulu melakukan kebaikan dalam hidup kita dan telah menyelamatkan kita. Dimanapun kita berada, baik di lingkungan tempat kita belajar, tempat kita bekerja, dan bahkan di manapun tempat kita bersosialisasi/berkomunikasi dengan orang lain, tebarkanlah benih-benih perbuatan yang baik. Sehingga dengan kehadiran kita di manapun, dalam situasi apapun, orang lain diberkati.
Amin.

Hukum Kelimpahan

Oleh: Asty Bortan
Suatu hari yang indah, seorang kakek tua hendak menaiki bus. Pada saat dia hendak menginjakkan kakinya ke anak tangga bus, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Seketika bus tertutup dan bergerak dengan cepat, sehingga dia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si kakek yang tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela bus sambil tersenyum.
Seorang pemuda yang duduk di sebelahnya dan melihat kejadian itu keheranan, dan bertanya kepada si kakek tua, "saya memerhatikan apa yang kakek lakukan. Mengapa kakek melempar sepatu yang sebelah juga?"
Si kakek menjawab "Supaya siapa yang menemukan sepatu saya bisa memanfaatkannya."
Ternyata si kakek itu memahami filosofi dasar dalam hidup.
JANGAN MEMPERTAHANKAN SESUATU HANYA KARENA KAMU INGIN MEMILIKINYA ATAU KARENA KAMU TIDAK INGIN ORANG LAIN MEMILIKINYA.
Karena kelekatan akan sesuatu (benda, materi,peristiwa ataupun seseorang) membuat hidup kita terbatas.
Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.
Seperti si kakek dalam cerita itu mengajarkan kepada kita untuk belajar dengan rela melepaskan sesuatu.
Tuhan sudah menentukan bahwa, memang itulah saatnya si kakek tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja si kakek itu kehilangan sepatu supaya nanti dia bisa mendapatkan sepasang sepatu baru yang lebih baik. Satu sepatu hilang, dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan bernilai banyak bagi si kakek. Tapi dengan melemparkan keluar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandagan yang membutuhkannya.
BERSIKERAS MEMPERTAHANKANNYA TIDAK MEMBUAT KITA ATAU DUNIA AKAN MENJADI LEBIH BAIK.
Kita semua harus memutuskan kapan sesuatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.
KERELAAN KITA AKAN MEMBERIKAN RUANG PERTUMBUHAN BAGI HIDUP KITA SENDIRI.
Memang tidak mudah bagi kita melepaskan sesuatu yang telah menjadi milik kita. Namun, Tuhan telah menjanjikan bahwa segala sesuatunya telah dia sediakan bagi semua yang percaya akan rancangan-Nya.

Pengorbanan yang Tersembunyi

Oleh: Gideon
Syalom. Puji Tuhan!! Saya akan menyaksikan keberadaan hidup saya bersama dengan Tuhan Yesus Kristus. Ketika saya datang ke Bali, saya bingung apa yang harus saya kerjakan. Sementara saya juga berapi-api untuk menjadi Misionaris di Bali. Ketika tiba di sana, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian saya bekerja di sebuah radio swasta, tapi hanya mampu 1 bulan karena memang saya tidak ada niat untuk bekerja.
Saya mendapat peneguhan dari panggilan Tuhan untuk terus giat memberitakan Injil. Akhirnya saya berkeputusan untuk mengajar anak-anak yang kurang mampu (miskin) di desa-desa tanpa pungutan biaya dan sampai hari ini biaya operasional dari kantong sendiri sementara penghasilan tidak ada dan tidak ada support dari pihak mana pun untuk pergi melayani di desa-desa. Saya masih berpikir, karena untuk membeli bensin saja tidak ada uang. Sementara saya juga baru menikah dengan istri saya, Dewi. Tapi Puji Tuhan, hingga saat ini kami hidup dengan iman. Sebelumnya juga saya pinjam motor untuk melayani di desa. Pernah suatu saat tiba-tiba ban sepeda motor saya pecah, dan waktu itu saya tidak membawa uang sama sekali. Akhirnya saya menitipkan SIM saya. Baru beberapa hari kemudian saya bisa menebus SIM itu.
Sampai hari ini kami bisa hidup dari pelayanan kami di desa. Ketika kami pulang dari sana untuk kembali ke Denpasar, kami selalu membawa buah-buahan maupun sayur. Puji Tuhan saat ini kami juga tetap melayani anak-anak di sana. Kami bercerita tentang nilai-nilai kebenaran Tuhan Yesus dan sebagian dari orang tua mereka mau didoakan dan terima Tuhan Yesus. Saat ini saya sedang membuka kursus anak-anak di tempat yang baru.
Terima kasih untuk saudara yang mau membaca kesaksian pelayanan saya dan doakan agar pelayanan di desa ini makin berkembang dan orang tua mereka mau mendegar Kabar Baik. Juga doakan biaya kebutuhan operasional saat ini yang menjadi pergumulan kami ke depan.
Tuhan Yesus Memberkati.