Memberikan Pujian
Oleh: Marinus Waruwu
Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut
jalan. Tolstoy, penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya,
langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata
tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai
Saudaraku. Aku tidak bawa uang."
Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis
berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali,
karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi
saya."
Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.
Artikel Terkait
Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak
manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang.
Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis
dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa
uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.
Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga
makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai.
Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu
sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus.
Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah. Jauh lebih mudah mengritik orang lain.
Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak
mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya
puji. Kinerjanya begitu buruk." "Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu
buruk?" saya balik bertanya. "Karena Anda sama sekali tak pernah
memujinya!"
Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?
Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.
-
Kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmat-Nya tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda mengingkari nikmat-Nya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.
-
Kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!" Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, "Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!"Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain. Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.
-
Paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar dan baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.
Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang
yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi,
Lu Lagi -- bahasa Jakarta). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal
mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari
mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.
Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir
saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya
setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan
bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu
dan benar-benar mati kutu.
Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang
Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif
yang amat dahsyat. Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan
terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang
membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor
klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko, maupun petugas di jalan tol.
Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab
ucapan terima kasih saya dengan doa, "Hati-hati di jalan, Pak!"
Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang
membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang
menjemukan.
Pujian memang mengandung energi yang bisa
mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih
penting, membuat orang merasa dimanusiakan.
Sumber: Indonesia Business Online, Penulis: Arvan Pradiansyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar