Apakah Ada Hari Esok
Pada saat melihat tayangan TV, penyanyi Utha
Lekumahuwa kembali ke pangkuan Bapa di Sorga, yang diiringi background
soundtrack musiknya "esok ‘kan masih ada", terbesit pesan optimis dalam
kehidupan esok bagi pribadinya. Lagu itu telah memberikan kenangan bagi
penggemarnya yang sekaligus rasa duka mendalam. Pada akhir hidupnya,
didasarkan pemberitaan diabdikan dalam pelayanan Gereja telah memberikan
pesan lain bahwa hari esok sungguh telah dipersiapkan dan
dipertanggungjawabkan dengan baik di hadapan Bapa. Pertanyaan bagi kita
adalah: Apakah hari esok ada bagi kita? Apakah sisa waktu hidup kita
telah diisi kehidupan sesuai kehendak Tuhan, dan memberi buah kepada
sesama?
Saya mengenal sepasang suami isteri doktor Teologi.
Mereka pernah ditawari dalam jabatan dalam kekuasaan pemerintahan,
tetapi tawaran jabatan dan fasilitas tersebut ditolaknya. Cerita ini
pernah diungkapkan pada suatu kesempatan kepada saya: "Sepanjang
perjalanan hidup saya," kata sang suami, "kami sudah cukup berbahagia
dan bersuka cita karena tidak pernah melakukan sesuatu, yang menurut
penilaian kami pribadi kurang baik di mata Tuhan. Kami kuatir kalau
masuk dalam lingkaran kekuasaan, tergiur dan kami jatuh, sehingga
kehidupan yang telah terbina 50 tahun tidak berarti dihadapan-Nya."
Pasangan suami-isteri ini berfikir tentang sisa perjalanan hidup, hari
esok mereka yang dapat runtuh oleh karena pengaruh duniawi, sehingga
tidak dapat mengakhiri pertandingan dalam hidup ini dengan baik.
Pantaslah, kalau hidup mereka sederhana, hidupnya tidak di jalan utama
atau komplek orang kaya. Saya pun juga mengenal saudara seiman eks salah
satu menteri di negeri ini yang parkir kendaraan jabatannya di tepi
gang, pernah makan dengan nasi bungkusan. Hidupnya sederhana tidak
seperti manajer yang penuh segala fasilitas mengelilinginya. Memang,
kehidupan terasa aneh bila berbeda dengan kehidupan dunia.
Kemungkinan masalahnya tidak terletak pada usia,
penampilan sederhana, kekayaan atau kemewahan, tetapi pandangan dan
sikapnya terhadap kehidupan esok yang merupakan bagian sisa waktu hidup
yang tidak pasti. Mereka selalu berjaga dan waspada, sebagaimana Surat 1
Petrus 4:2: Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut
keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Sebab walaupun seorang
berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada
kekayaannya itu (Mark 12:15b). Selanjutnya, Paulus dalam 2 Timotius 2:7
menuliskan pengakuan yang luar biasa: aku telah mengakhiri pertandingan
yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memeliharan
iman. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja
memberi buah (Fil 1:21-22b). Coba kita perhatikan kata "telah" yang
diucapkan Paulus "mencapai garis akhir" saat dia masih hidup. Mampukah
kita katakan demikian saat ini.
Ada kisah heroik yang luar biasa yang banyak
menginspirasi spirit untuk bertanding sampai akhir, seseorang bernama
John Stepen Akhwari. Seorang pelari marathon dari Tanzania yang
mengikuti Olimpiade Meksiko 1968. Ia menjadi terkenal bukan karena nomor
satu dalam Marathon itu, tetapi justru yang paling buncit. Itu pun saat
lapangan pertandingan sudah ditinggalkan penonton, dan masih tersisa
beberapa panitia pertandingan. Pada saat berlari ia cedera dilutut
sampai terlepas engselnya, keluar darah. Lututnya dibalut, ia terus
berlari dan berlari, sambil menahan derita sakitnya. Ia menyeret kakinya
setapak demi setapak... terus... terus... dengan kekuatan akhirnya
sampai ke garis finish. Tahukah saudara, juara pertama dalam Marathon
ini bernama Mamo Wolde dari Ethiopia dengan waktu 2:20:26. Dan Akhwari
masuk finish dengan waktu 3:25:27 artinya pertandingan sudah berakhir 1
jam lebih yang lalu. Pada terik matahari dan panitia sudah membersihkan
lapangan, salah satu Panitia terkejut dan menghampiri bertanya: "Mengapa
dalam kondisi luka seperti ini saudara tetap meneruskan pertandingan?"
Jawab Akhwari, "Negaraku mengirim aku sejauh 10000 mil dari tempat ini
bukan untuk memulai pertandingan tetapi negaraku mengirim aku untuk
mengakhiri pertandingan dengan baik." Koran paginya yang menjadi "Head
Line" bukan juara satunya tetapi orang yang paling akhir masuk ke garis
finsh oleh karena semangatnya menyelesaikan pertandingan. Spirit Paulus
yang telah mengakhiri pertandingan telah dicontoh dengan baik oleh
Akhwari.
Dari perenungan ini, membawa dalam suatu pembelajaran
bahwa hidup ini ternyata tidak tergantung dari lamannya tetapi
kualitasnya, hidup ini tidak tergantung awalnya tetapi akhirnya. Oleh
karena itu, selalu menganggap hari esok adalah hari akhir telah
mendorong tindakan berjaga dan waspada untuk mencapai akhir kehiduan
yang berkualitas di hadapan Kristus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar